Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 20:49 WIB
Acara Seni Belum Banyak Didukung Pemda
| jodhi | Jumat, 6 November 2009 | 21:38 WIB
|
Share:

Kompas/Mawar Kusuma Wulan
Keraton Yogyakarta

YOGYAKARTA, KOMPAS.com--Acara seni-budaya di Yogyakarta yang lingkungnya nasional bahkan internasional, masih belum banyak didukung pemerintah daerah.

FG Pandhuagie, seniman yang sering menjadi pelaksana dan humas sejumlah event budaya mengatakan, sekarang ini, ibaratnya seniman sudah emoh mencari-cari dana dari pemerintah jika hendak mengadakan acara seni. Prosedurnya berbelit. Tak heran jika sekarang banyak acara seni budaya di Yogyakarta malah mendapat dana dari lembaga donor asing. Mereka yang lebih peduli ketimbang pemerintah, ujarnya.

Pandhuagie lantas mencontohkan saat ia duduk sebagai Wakil Ketua Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) tahun 2005/2006. Pemerintah daerah memang menggulirkan dana yang jelas membantu, namun yang membuatnya kaget adalah dana itu diambil dari pos dana taktis. Ini menunjukkan bahwa anggaran untuk event budaya sekelas FKY pun, tak disiapkan. Dana taktis, menurutnya, bersifat bisa diambil, bisa tidak, dan hanya untuk hal-hal tak terduga.

Idealnya, pemerintah daerah menjadi mitra dan fasilitator, bukan eksekutor. Selama ini pemerintah daerah kerap menjadi eksekutor, yang masih mengintervensi agar acara tetap membawa kepentingan pemda. Lebih baik, konsep serahkan saja ke pelaku seni. Seniman paham kok bagaiaman menjalankan dan bertanggung jawab, katanya.

Michael Asmara, penggagas Yogyakarta Contemporary Music festival (YCMF), mengemukakan, sejak awal penyelenggaraan YCMF (tahun 2004) tak berpikir bagaimana caranya bisa kebagian porsi dana da ri pemerintah. YCMF yang hingga 2009 sudah kelima kalinya digelar, pun, baru sekali mendapat kucuran dana pemerintah.

Empat kali YCMF, bisa dibilang dana peyelenggaraan adalah dari iuran panitia, donator, dan peserta sendiri. Baru pada YCMF kelima yang berlangsung pertengahan Oktober lalu, Asian Cultural Council, sebuah lembaga donor Jepang-Amerika Serikat, membantu.

Lembaga donor tersebut, sudah mengamati YCMF sejak awal. Dari proses bertemu dan dialog, lembaga itu mau mengucurkan dana yang besarnya 30 persen dari total dana pelaksanaan YCMF. Lembaga tersebut tertarik dan peduli dengan event seni-budaya di Yogya.

"Untuk mendapat dana itu, ya tidak mudah karena banyak sekali kegiatan seni budaya di Asia yang mereka pertimbangkan untuk diberi dana. Ketika YCMF terpilih untuk diberi dana, artinya YCMF diperhitungkan di tingkat internasional . Tapi di negeri kita sendiri, YCMF mungkin agak tidak dilihat pemerintah," kata Asmara.

Asmara mencontohkan pemrintah Malaysia sangat peduli dengan seni budaya. Akhir November mendatang, ada Kuala Lumpur Contemporary Music Festival. Festival itu baru pertama kali diadakan, dan munculnya karena terinspirasi YCMF. Pan itia festival itu bisa jadi nyantai karena tak memikirkan dana, karena didukung penuh oleh pemerintah Malaysia, ujar Asmara.

Para peserta yang diundang ke YCMF, lanjut Asmara, jelas rugi uang karena panitia hanya bisa mengucapkan terima kasih. Dengan kata lain, biaya tiket hingga akomodasi, semua ditanggung peserta. Kondisi seperti ini juga terlihat dalam pelaksanaan Yogyakarta Gamelan Festival (YGF), event gamelan tahunan.

Ari Wulu, yang didapuk menggantikan banyak tugas almarhum Sapto Raharjo (ayahnya), untuk menjalankan YGF, mengatakan, peserta mancanegara sudah sadar bahwa YGF adalah kerja budaya. Artinya adalah, mereka sendiri yang keluar uang untuk datang ke Yogya.

Kami sudah banyak terbantu pemerintah daerah, dari kemudahan pengurusan VISA hingga menyediakan taman budaya Yogyakarta (TBY), dan urusan publikasi. Kami, dan para seniman lain yang gigih menggelar acara seni, saya yakin tidak mau mengemis dana. Namun alangkah baiknya suatu saat pemda, baik itu Pemkot dan Pemprov dan para seniman bisa duduk bersama membahas seputar hal ini. YGF mendapat dana bisa jadi karena YGF sudah cukup lama digelar, namun event lain juga tetap perlu diperhatikan, ujar Ari.

(Lukas Adi Prasetya)  

Sumber :
Kompas Cetak