Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 23:16 WIB
Teater Usu Pentaskan "Raja Tebalek"
Jodhi Yudono | jodhi | Kamis, 29 Oktober 2009 | 14:36 WIB
|
Share:

MEDAN, KOMPAS.com--Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater "O" Universitas Sumatera Utara (USU) akan mementaskan lakon komedi berjudul "Raja Tebalek" di gedung utama Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Sabtu (31/10).

Pimpinan produksi pagelaran Teater "O", Yulhasni, di Medan, Kamis, mengatakan, pementasan yang berdurasi kuranglebih  1,5 jam ini dibuat dalam rangka ulang tahun ke-18 Teater "O" USU.

"Pentas Raja Tebalek adalah puncak acara setelah sebelumnya kita mengadakan bedah buku Raja Tebalek di Fakultas Sastra USU," katanya.

Menurut Yulhasni yang juga Dosen Kajian Drama FKIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), pementasan Raja Tebalek diperuntukkan bagi mahasiswa dan umum. Hingga kemarin dan hari ini persiapan pementasan sudah mencapai 90 persen.

"Sampai sekarang, sejumlah perangkat pementasan, baik artistik, musik dan lampu sudah rampung 90 persen. Kita berharap di pementasan nanti, semuanya telah rampung," kata Yulhasni yang juga salah seorang pendiri Teater "O"  USU.

Selain pementasan Raja Tebalek, di tempat yang sama juga akan digelar Anugerah Tokoh Teater Sumut 2009. Sebanyak sembilan orang telah dipilih panitia untuk menerima anugerah tersebut.

Tim penilai dari Teater "O" terdiri dari Yulhasni, Yusrianto Nasution, Agus Mulia, Mukhlis Win Ariyoga, Bambang Riyanto dan  Azrai telah memilih sejumlah nama yang dinilai telah memberi kontribusi besar bagi kemajuan teater di Sumatera Utara.

"Kita memilih mereka berdasarkan beberapa kriteria, seperti peran sertanya selama ini demi kemajuan teater di Sumut serta eksistensinya," katanya.

Ketua Teater "O" Bambang Riyanto, mengatakan, pementasan parodi komedi Raja Tebalek ini merupakan bagian dari buku himpunan 10 naskah  teater "O" yang mengkritisi persoalan tenaga kerja, terutama diarahkan ke persoalan nasib miris tenaga kerja yang dikirim ke luar negeri.

"Sebagian besar pementasan yang kami bawakan selalu berbau humor namun penuh dengan kritikan sosial," katanya.

Sumber :
Ant