catatan jam 12 malam
12.00 malam:
lemas seluruh ragaku sedari tadi perutku hanya terisi pahit
diamdiam tubuhku menjadi malam. jantungku terasa enggan
besok kumakan lagi bebanbeban
:sarapan kedua setelah penderitaan
06.00 pagi:
sebentang khayalan
12.00 siang:
bayang-bayang
esok:
“masih ingin menemaniku makan malam sampai tahun depan?”
lusa:
menjual sajaksajak di emperan
mengirimi uang pada si sayang
meniduri udara malam
membiarkan ragaku dibawa orang
melepas jiwaku bersama tuhan
sekarang, 12.01 malam:
mendengar tangisan, teriakan,
jeritan tengah malam
ada suara bincangbincang. bebisikan malaikat
atau diskusi suami istri tentang putrinya ujian sekolah
besok, “ah, sekolah selalu saja jadi masalah,”
atau jantungku sendiri, “ah, cinta selalu saja jadi masalah,”
atau hidup itu sendiri,”ah, kenyataan selalu saja berakhir kalah,”
atau lirih sajak, “mau saja kau jadi tawanan,”
03.00 dini hari:
“saya pamit pulang,” ujar puisi
2009
Goalpara, Legenda Kau
telah kau lipat langit Cikaret dengan seribu su’al
pulang dengan langkah awan hitam, kau tak mampu
menembus rumahmu: penyesalan yang selalu kedinginan
dan membeku
kau ajak lagi kehendakmu untuk jatuh
mengobrak-abrik kitab masa lalu
semestinya di kaki Goalpara ini
kau telah lebur, menjelma awah putih
:hidupmu yang selalu palsu
sorak ayat yang hanyut telah menjadi angin
jiwamu pun tak mampu menampung reriuhan
lalu untuk apa kau disini, kau tak bertelinga lagi
kembalilah ke rumahmu: makam kesunyian yang abadi
legenda kau, mencuri dan mencatat nasib
mendengar amtsilah yang riuh, petuah bijak
telah menjadi abu-abu
jemarimu tetap saja menulis kejatuhan
yang raguragu di pinggir kulah: tempat kau
menatap langkah dengan sia-sia
2009
Cikaret: nama kampung di kabupaten Sukabumi
Goalpara: nama jalan di kecamatan Sukaraja Kabupaten Sukabumi
Kulah: kolam ikan (bahasa sunda)
undangan kematian
mulai malam ini, aku belajar menulis undangan kematian
mengirimnya pada rumah, gubukgubuk pinggir jalan
pada lelaki renta dan tongkatnya yang tua
pada nasib di wajah angin malam
kucatat sesobek alamat
kubiarkan ia pergi sendiri
menggerayangi bilik gang: jalan sempit di pintu tua
menyertakan secuil nama: tentang ibu yang merebus batu
2009
METROPOLANSIA
telah habis sekian jalan itu
dari pinggiran sejarah pinggiran kota
depok-jakarta
malam ditancapkannya kapakkapak pemotong kayu
membangun kesesakkan diantara rumahrumah burung
dan segumpal awan kecil
masih adakah tuantuan tanah
yang mengambil budak di antara belantara rawa
mall dan plaza
jembatan, lampu merah, pagar baja bagai hiasan
bagi seorang bayi yang baru saja lahir dari rahim ibu
yang gagap mencatat bahasa
kota ini menjadi kawanan puisi bagi segerombolan
pujangga yang terpaksa mencatat bandarbandar obat
dan rumahrumah pijat
kejahatan lorong becek yang gelap dan wajah gedung
yang angkuh adalah sajak baru dari masa kecil ketenteraman
alam dan sejarah
pun diantara parkiran mobil depan restoran itu masih ada
seorang anak menulis surat kepada sang ayah tercinta,
“bapak, aku tak bisa belajar puisi di kota ini!”
2009
Biodata :
Restu Ashari Putra. Lahir di Jakarta tanggal 31 Desember 1985. Saat ini sebagai mahasiswa Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Karyanya berupa puisi, cerpen dan artikel tersebar di beberapa media seperti Pikiran Rakyat, Seputar Indonesia, Radar Bandung, Bandung-News.com, buletin sastra PENA. Puisinya berjudul “Riwayat” menjadi puisi pilihan Lomba Menulis Puisi Dinas Kebuadayaan dan Pariwisata Jawa Barat 2008. Kini bergiat di Komunitas Rumput, Bandung.
Alamat : Jl.Merkuri Utara VIII No.1 Margahayu Raya-Bandung
Email : restu_freedom@yahoo.com


