Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 00:58 WIB
Sejarawan: Selesaikan Polemik Vestenburg!
Jodhi Yudono | jodhi | Senin, 12 Oktober 2009 | 23:52 WIB
|
Share:

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA
Benteng Vastenburg dilihat dari ketinggian, Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Walau merupakan saksi sejarah perkembangan Kota Solo, Benteng yang dibuat pada tahun 1745 oleh Baron Van Imhoff kondisinya memprihatinkan, selain sudah milik perseorangan, di areal benteng tersebut rencananya akan dibangun hotel oleh pemiliknya.

SOLO, KOMPAS.com--Sejarawan dan pengajar Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Negeri Sebelas Maret Solo, Soedarmono mengatakan rekonsiliasi antara pemerintah, masyarakat Solo, dan sejumlah pihak swasta pemilik tanah di Benteng Vastenburg, dibutuhkan untuk menyelesaikan polemik yang terjadi.

"Rekonsiliasi dibutuhkan untuk dapat menampung semua aspirasi yang ada terkait penyelesaian masalah benteng tersebut," kata Soedarmono dalam diskusi "Masa Depan Benteng Vastenburg" di Balai Soedjatmoko, Kota Solo, Senin.

Akan tetapi, lanjutnya, rekonsiliasi tetap diarahkan pada upaya pelestarian sebuah cagar budaya, khususnya Benteng Vastenburg yang dibangun penjajah Belanda pada 1775.

Meskipun pada akhirnya salah satu pemanfaatan benteng tersebut untuk hotel, kata dia, konsep rekonstruksi bangunan benteng harus ditekankan pada pelestarian cagar budaya, "Jangan sampai bentuknya seperti bangunan modern".

"Titik final yang dicita-citakan dalam rekonsiliasi tersebut adalah terwujudnya Benteng Vastenburg sebagai pusat kebudayaan," kata dia.

Ia mengatakan, sejumlah konsep pemanfaatan Benteng Vrastenburg sebagai pusat kebudayaan telah disiapkan, "Tidak hanya sebagai museum, benteng tersebut diharapkan juga dapat menjadi pusat pengembangan kebudayaan".

"Situs cagar budaya seperti Benteng Vastenburg harus dipertahankan karena menyangkut identitas kota. Kota Solo bermasalah dalam pelestarian cagar budaya karena banyak bangunan cagar budaya dan kawasan bersejarah di Kota Solo mengalami degradasi karena kalah oleh kepentingan ekonomi," menurutnya.

Jika rekonsiliasi terwujud dan menghasilkan kesepakatan dalam merekonstruksi benteng tersebut seperti bentuk awal, kata dia, hal tersebut menunjukkan kebangkitan Kota Solo dalam melestarikan cagar budaya yang ada di kota tersebut.

Sementara itu, Kepala Museum Benteng Vredenburg Yogyakarta, Sri Ediningsih mengatakan, kondisi bangunan-bangunan yang berada di dalam Benteng Vastenburg sudah hilang, "Hal tersebut lebih parah dibandingkan saat Benteng Vredenburg dipugar menjadi museum".

Oleh karena itu, kata dia, perlu dilakukan rekonstruksi bangunan pada Benteng Vastenburg, "Rekonstruksi bisa dilakukan dengan melihat foto-foto yang mendokumentasikan bangunan-bangunan yang ada di benteng tersebut".

"Selain itu, rekonstruksi bangunan juga bisa dilakukan dengan melihat bangunan-bangunan yang ada di dalam Benteng Vredenburg Yogyakarta karena memiliki kemiripan dengan apa yang ada di Benteng Vastenburg Kota Solo," menurut Sri.

Ia mengatakan, pemanfaatan dalam bentuk apapun pada Benteng Vastenburg diharapkan tidak meninggalkan konsep pelestarian cagar budaya, "Itu yang harus dipahami oleh para pemilik tanah di kawasan benteng tersebut".

Sementara itu, rencana pembangunan hotel dan mall di atas tanah Benteng Vastenburg menuai banyak protes, salah satunya dari Komunitas Peduli Benda Cagar Budaya Nusantara (KPCBN).

Surat penolakan yang dikirim KPCBN kepada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) membuahkan hasil dengan adanya surat balasan dari Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala yang menyebutkan pendirian mal dan hotel tidak diperkenankan dibangun di kawasan cagar budaya Benteng Vastenburg. 

Sumber :
Ant