Senin, 21 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Senin, 21 Mei 2012 | 23:17 WIB
Puisi-puisi Nida Fauzia
| jodhi | Sabtu, 10 Oktober 2009 | 18:30 WIB
|
Share:

KOMPAS/PRIYOMBODO
Dua orang pelajar melintas mengendarai sepeda sewaan di Lapangan Fatahilah, dengan latar belakang Museum Sejarah Jakarta, Jakarta Barat, Senin (5/10). Meski pun bukan hari libur, kawasan kota tua tetap ramai dikunjungi masyarakat dan pelajar seusai jam sekolah. Kebanyakan dari mereka memanfaatkan kawasan tersebut untuk tempat berfoto.

Sedalam Rasa

Bisakah kita menawar rasa yang sudah lama terbingkai cinta?
Aroma yang menguar sedalam rasa
Pada jarak yang membuat luka
Aku rindu masa matahari membuat kita merawat duka

Cinta yang lama menderas biarkan tetap dihati
Keheningan ini tak indah sama sekali
Terlalu lama berkawan dalam sepi
Hingga terlewati lautan,
Dimana kita biasa bercerita masa depan
Kita,
Kau dan Aku

Seiring waktu kupilin serpihan masa lalu
Kukira dengan itu aku dapat membunuhmu

Sepelemparan nasib,
Aku tak dapat menghelamu pergi
Oktober, 2009

Suatu Sore di Sudut Kota Tua
Keheningan yang mencekam
dibalurkan puing-puing bangunan tua tak bertuan
namun aku tak ambil pusing
dan memilih duduk tercenung disudut gereja tua berkubah

yang kutunggu tak jua datang
sedari siang hingga petang perlahan menjelang
lalu tanganku bergerak menarikan larik-larik puisi
pun tak jenuh merekam sisa senja di sudut kota tua

// Kau khianat

Menjelang malam aku tetap dalam sendiri
Hanya sesekali terdengar gemuruh tawa pedagang kaki lima
hilir mudik waria berwajah muram di ujung gang remang

// Kau khianat

Sejak kau tikam episode larungmu bilangan tahun lalu
Selama itu pun aku berkirim pesan

Tak terhingga

Aku bisikkan lewat apa saja, Adakah sampai padamu?

Atau kau sengaja alpa?
Oktober, 2009

Lelaki Semesta
// Lelaki Semesta ..

Larut dalam gebalau
Repih memilah rindu yang berjarak panjang
Jemari ini melahirkan tak terhitung puisi
Kau memberiku pandora berisi cahaya
Akankah karam atau bertahan?

Tak butuh waktu lama bagiku untuk bergegas
menuju dermaga, dimana kau menunggu berbalut pelangi
Semesta, kau paling semesta..
Kau tak renta lekang usia

Aku titipkan kau pada remah-remah cuaca Ibukota
Tak bersahabat memang, tapi aku bisa apa?
Pada waktu yang bergulir kami menumpahkan
serpihan masa yang belum lama

Agustus, 2009

Rahasiaku
Aku dan cinta rahasiaku
Sembunyi-sembunyi
Berbisik lewat sepetak bilik

Hari ini hari keempat di bulan Juli,
tujuh hari menjelang hari lahirmu
masih kuingat ....
sebab kulingkari tebal dengan bolpoin merah
ini bukan hari yang menyenangkan
namun berbalik suram, berubah mencekam

Hari kesebelas di bulan tujuh
membuat hatiku serasa diremas pedih*
kuhirup dalam aroma duka dari kejauhan
tidak cukup anyir, namun mengguris sedih

Kenapa aku terlibat duka?

terlihat lebih luka dari kawan diujung jalan
yang kisahnya tragis seperti novel berwarna kelabu
Aku tak lagi bertumpah lelah

Hingga terkadang..

Aku hanya melempar salam dari kejauhan

Agustus, 2009

Ritus Kopi

“A cup of coffee is a symbol of male superiority.”
 
Teduh : begitu aroma menyeruput melalui indera pencecapku.
Sedikit menyengat tajam
namun tak membuatku urung menuangkannya kali kelima.
Cangkir kecil 500 mili kafein jadi kawanku semalam tadi.
Aku diburu kerja,
ponsel sedari tadi tak henti berdering. Lelah?
Tentu aku lelah.
Keluh kesah bukanlah watakku.

Tuangkan kopi.
Ritus kesekian malam ini.
Tak ada yang pundung jika aku tenggak hingga kesekian.

Aku kecanduan.

Agustus, 2009

Kabarkan Lewat Asap

Padang menjulang
Nampak sedari kejauhan
Pucuk-pucuk ilalang mengering
Kelepak elang sayup menjelma pekak

Hari ini ada yang sengaja membakar
Agar senyap berganti meriah
Bukan oleh keriangan
Namun kedukaan
Bagi alam yang semula hijau
Lambat menghitam oleh asap tebal
Kulekatkan pandang
Sejauh tak kutangkap apa-apa
Sia-sia
Sama saja aku berdiam juga berjuang

Nampak dikejauhan
Cukong-cukong menghitung uang

Terbahaklah kalian
Hingga mampat nafasmu
Hingga mampat darahmu

Agustus, 2009

Kau, Pulanglah

~ Sengaja aku membelinya hanya sepotong, karena separuhnya kusisakan untuk kau bawa ke kampung. Kudengar bisikmu pada mbok tetangga, kamu akan pulang dengan tangan hampa, dan artinya simbok tak punya kenangan apapun darimu. Hanya sedikit jejak tanpa bekas.

~ Jangan purnakan aku dari tugasku. Selagi kau merantau, ijinkan aku berdiam di bilikmu. Menunggu simbok menghitung pergimu. Dari halaman seluas ini, manakah yang kau sisakan untukku?

~ Kampung sepi saat ini. Semua memilih pergi. Eksodus ke barat. Sumber air tumpah ruah disana. Aku bisa apa? Simbok berkeras hati. Kupandang-pandang langit barat. Kupikir disana tak akan ada tanah merekah. Kering..

~ Kangmas, simbok mulai sering meracau. Tak jelas makna. Wacana kau akan pulang menguap begitu saja. Berbilang hari suratmu tak diantar carik dusun. Sudah kubilang. Mana ada yang mau bertahan di dusun mati seperti ini. Hanya aku juga simbok. Mereka bilang kami gila,Mas..

~ Ini bulan yang terakhir. Hari yang terakhir bagi kami berkeras disini. Jika esok matahari menggantang tinggi tak jua kau nampak, jangan salahkan kami jika kami tak lagi dapat kau jumpai. Mungkin kami mengikuti jejak carik dusun. Pergi ke arah angin barat bertiup. Sungguh tak menipu, kangmas. Janjimu sirna, menguap seiring pula jejakmu lekas.

~ Seorang wanita awal dua puluhan dengan wanita tua, menuju barat dengan barang seadanya.

Agustus, 2009

Yang Tersisa

Jangan kau sangka aku menyerah
Walau tertatih namun aku maju satu langkah
Berdarah, entahlah terkena apa
Semangatku tak surut jua
Hari hanyalah pengulangan waktu*
Tak peduli apakah nafas
menyisakan esok untukku..
Bagiku hanyalah satu : Berjuang, Melawan, Menentang

Januari, 2009

Sekilas Biografi

Nida Fauzia, mahasiswa semester 7 Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro. Membaca novel dan karya sastra menjadi aktivitas akhir pekan yang menyenangkan. Sementara ini berkarya secara indie melalui blog puisinya di roemahpuisi.blogspot.com.