YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Mendirikan sekolah gamelan bisa menjadi salah satu cara menarik minat anak muda bergamelan, sehingga seni tradisi itu tetap lestari. Namun kalau toh hendak didirikan, konsep sekolah itu harus jelas, termasuk sumber dana dan keberlanjutan pengembangannya.
"Gagasan pendirian sekolah itu sudah mencuat tahun lalu, tapi baru sebatas obrolan," ujar Ishari Sahida, putera almarhum seniman kontemporer Sapto Raharjo.
Menurut Ishari, atau yang akrab disapa Ari Wulu ini, sekolah gamelan adalah salah satu cita-cita mendiang ayahnya yang belum sempat terealisir. Sapto yang merupakan penggagas Yogyakarta Gamelan Festival (YGF), meninggal Februari lalu karena sakit, di usia 54 tahun.
Meninggalnya Sapto menjadikan YGF ke-14 pada Juli lalu, dan YGF-YGF selanjutnya akan banyak bertumpu ke Ari. Namun Ari menggarisbawahi bahwa YGF jangan menjadi ajang gamelan satu-satunya di Yogyakarta. Gamelan mesti berkembang luas, dan YGF yang sudah faestival gamelan terbesar dan paling rutin se-dunia pun, sejatinya hanya sejumput kecil tempat bagi pecinta gamelan untuk tampil.
Jika ada gerakan bersama untuk mendirikan sekolah gamelan, selepas YGF tahun depan, barangkali akan lebih bagus untuk memulai. "Konsepnya kan mesti matang, dan pengajarnya siap. Dalam pembelajaran, mestinya ada semacam kurikulum. Dengan kata lain, dukungan dana pun bukan jaminan," kata Ari.


