Senin, 21 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Senin, 21 Mei 2012 | 23:06 WIB
"Al"
| Jumat, 7 Agustus 2009 | 07:10 WIB
|
Share:

Cerpen Endang Nila

1998-1999, aku masih 15…

Syahrial adalah tokoh romantis yang pernah ambil peran dalam selampir kisah yang konyol dalam hidupku. Konyol karna berakhir dengan luka dan sakit yang kutancapkan dalam hatinya, hanya karena beberapa hal yang membuatku merasa hina jika harus bersamanya, akibat pandangan-pandanganku yang sempit tentang siapa dia.  Selebihnya, Syahrial adalah pria yang romantis dan sangat pencinta, tapi entah mengapa semua jadi gagap dan tidak berjalan sesuai dengan arah yang harusnya pernyataan ini sebutkan tentang dia dalam hatiku.

Syahrial adalah pria yang sangat menarik. Dengan senyum yang sangat menawan, sangat menawan, (pengulangan ini diperlukan untuk menggambarkan betapa menawan senyum-nya bagiku) tatapan mata yang hangat ketika menatapku, seolah-olah begitu erat memeluk mengalirkan kehangatan dan rasa nyaman di seluruh tubuhku. Dengan cerita-cerita konyol dan lucu, menaburkan gelak canda tawa dalam pertemuan-pertemuan kami yang seringkali tidak sengaja ada, tapi kemudian lebih sering ku sengaja agar ada ketika pesonanya mampu menarikku kuat dari cangkang persembunyianku. Dengan penampilan yang necis dan kadang parlente; jika sedang mendapat untung lebih dari penjualan kupon togel, dengan potongan rambut yang manis di belah dua, walau tanpa minyak rambut, dia tetap tampak kelihatan keren, mempesona, dengan tindik satu di hidung, lubang sebelah kanan, menambah kesan eksotis yang mampu menarik hati untuk ikut bergetar ketika mendapat senyumnya. Entah apa lagi yang belum ku sebutkan, segala hal tentang dirinya sungguh sangat membuatku terpesona, keseluruhannya sungguh membuatku ingin selalu duduk di sore hari di teras toko ibu kost ku, atau pada jam-jam dia mulai menjalankan tugasnya berkeliling dari jalan ini ke jalan sana dan dari gang ini ke gang sana, dan selalu pula, jika aku ada, dia akan sengaja berlama-lama duduk dan sekedar cerita. Dan aku-pun sering dengan sengaja duduk di sana berlama-lama bersama si mbak, ibu kost-ku, siapa tau dia akan kembali dan selesai dengan kerja-nya dan siapa tau dia akan singgah dan siapa tau kami akan bincang-bincang lagi.

Syahrial ketika itu bangga dengan pekerjaannya sebagai agen penjual kupon judi togel, bangga dengan penghasilan yang lumayan dari kerja itu, yang ketika itu marak di kalangan awam dan belum dilarang, dan meski kemudian telah dilarang oleh pemerintah, masih diminati dan tetap bisa beroperasi secara diam-diam. Aku tidak tau mengapa bisa begitu dan tidak terlalu pusing memikirkannya, walau aku sangat menyadari dan mengakui bahwa hal itu salah dan haram hukumnya. Tetap saja aku tidak bisa menepis pesona syahrial dari kelopak mataku. Namun kelak kusadari, nuraniku akan bicara keras, hingga aku tidak mampu menerima cinta seorang syahrial walau ku akui aku pun seakan sangat mencintai dia, cinta yang ‘seolah-olah’ sebab tak dapat sepenuhnya kukatakan cinta karena pikiran logisku sebagai manusia lebih banyak bicara pada akhirnya. Mungkin keadaan ini adalah satu dari beberapa hal yang membuat aku merasa hina jika harus bersamanya.

Aku sangat menikmati saat-saat ketika aku mengenal dia dan hidupnya. Aku bahagia, pernah menjadi satu orang yang sangat berarti bagi dia, dan pernah melukis kisah dalam kehidupan cintanya yang dengan tidak sengaja ku buat hancur lebur dan berkeping-keping. Aku menikmati lagu-lagu yang dinyanyikannya dengan petikan gitar sehandal gitaris GUNS ‘N’ ROSES ketika menyanyikan lagu sweet child of mine, duduk di tembok pembatas jalan di mulut gang menuju rumahnya bersama teman-teman-nya. Konser itu kerap kali berlangsung sampai mereka bosan dan aku tak juga bosan, mau dan mau dengar lagi. Ketika kami belum kenal, aku hanya mengagumi dia dari jauh, menjadi fans setianya dalam diam, dan memandangnya dengan curi-curi ketika dia singgah di toko si mbak sekedar bertanya kabar pada si mbak atau kalau si mbak beli kupon togelnya. Aku hanya bisa puas dengan semua status itu; menjadi secret admirer, memendam rasa yang membuncah dengan gejolak ingin akan sesuatu hal yang lebih dengan dia, tapi dalam diam. Aku bukanlah seorang gadis yang bisa dengan ekspresif menyatakan siapa aku dan apa mauku.

Itulah awalnya, aku hanya salah satu dari hadirin dan hadirat yang ada di teras toko itu mendengar dia bicara dengan si Mbak, si Butet dan adik-adiknya; ponakan si Mbak, dan ikut tertawa dalam aliran cerita yang lucu. Dari proses itu, mungkin akhirnya terbit inginnya untuk mengenalku. Tidak langsung dengan menyodorkan tangannya dan menyebut namanya, tapi melalui Butet dia tanya tentang aku dan minta kenalan. Entahlah, agak lucu caranya, tapi menyenangkan juga dan aku hanya ikuti arus yang di tawarkannya. Melalui Butet dia bilang bahwa senyumku manis, melalui Butet juga dia bilang sesuatu yang menyentuh hatiku seperti  “sekolah dimana?” “jurusan apa?” “ohhh…” “orang mana?” “udah punya pacar belum?” “kirim salam manis ya…” dan banyak lagi pernyataan-pernyataan dan pertanyaan-pertanyaan lain yang kadang di sambut dengan tawa jahil oleh Butet dan adik-adiknya dan kadang-kadang si mbak ikut nimbrung membuat panas suasana. Lambat laun suasana mencair dan kami punya jaringan langsung komunikasi tanpa perantara. Tanpa ku sadari, frekuensi hadirnya semakin sering. Penampilannya semakin mempesona, memicu debaran hatiku yang makin hari makin kencang, dan kami menjadi punya waktu lebih lama untuk hadir dalam konferensi sore hingga malam bersama si Mbak, Butet dan adik-adiknya, yang akhirnya tinggal kami bertiga; dia, pengawalnya; Ajo dan aku. Aku menikmati semua pertemuan-pertemuan itu, dengan impi yang tersimpan rapi dalam hati yang tak berani kunyatakan. Aku bahkan tak berani membayangkan bahwa suatu saat impian itu jadi kenyataan, walau dengan tak sengaja, sikapku telah menyatakannya.

Dia semakin sering mengadakan konser dengan gitarnya di mulut gang rumahnya di depan toko ibu kostku membawakan lagu-lagu romantis, suara hati seorang pria yang sedang jatuh hati dan hendak menyatakan isi hatinya pada wanita pujaannya. Antara sadar dan tidak, aku telah memposisikan diriku sebagai perempuan pujaannya itu, dan terhanyut dalam fantasi itu dan di sisi lain aku tekankan dalam hatiku bahwa itu tak mungkin atau ada thesis ketiga yang menyatakan bahwa aku sesungguhnya takut jika sampai akhirnya impianku kejadian; bahwa kami saling mencintai dan jadian. Entahlah, dengan segala ketidak-mengertianku tentang semua itu, aku hanya mengikuti arus kata hatiku dan aku bahagia di dalamya di campur sedikit kadar rasa bersalah karena keadaannya, dan kenyataan siapa dia dan siapa aku sama sekali bukanlah suatu hal yang ku harapkan.

“nggak sekolah?” tanyaku pada suatu hari, karena penasaran dengan ketidakpernah-munculannya dengan seragam sekolah, bahkan ketika kami bertemu persis jam ku pulang dari sekolah. Aku hanya berharap dua jawaban ketika itu, dia telah lulus SMA dan menunggu waktu untuk melanjutkan kuliah atau mencari pekerjaan yang lebih baik. Dan dengan segenap hatiku, sungguh aku menghargai kejujurannya tentang keadaan dirinya…

“Dua tahun lalu aku telat mendaftar sekolah, sebenarnya udah hampir di masukkan di pertengahan tahun tapi Mak bilang tanggung dan kami memutuskan menunggu tahun depannya, tapi inilah, jadi kelupaan… keenakan dapat uang dari kerjaan ini. Mungkin tahun depan akan ku coba,” aku nya jujur. Yang menimbulkan sedikit benturan dalam dinding prinsip yang ku pegang teguh, tapi dalam diam ku coba cerna dan pahami. Lagi-lagi pesonanya meluruhkan semua ketidak-samaan itu dan aku tetap ikut arus yang sedang melanda suasana kami. Dengan segala kepolosanku tentang hidup yang harus dijalani seorang manusia, terlebih seorang anak seusia ini yang harusnya duduk di ruang kelas dan belajar.

“Al, sekolah lah…keadaan enak dari pekerjaan ini nggak akan bertahan lama,…” ucapku sungguh-sungguh menatap matanya seolah-olah aku ini siapanya dan dia siapaku, yang ditanggapinya dengan pandangan merasa bersalah dan dengan gagu menjawab dengan senyumnya. Sekilas terentang satu beda di hadapan kami, namun dia berjuang untuk masuk dan ikut agar seolah-olah beda itu sama sekali tidak ada.

“Trimakasih Ka… aku akan sekolah, tahun depan aku sungguh-sungguh akan membuat pernyataan ini jadi kenyataan” ucapnya sambil dengan tatapan hangat itu yang menarik aku semakin dalam ke dunia pikirnya dan membuatku mengerti apa artinya. Rasa yang tak dapat kulukiskan ini membuatku menjadi semakin tertanam kuat dalam arus yang sedang mengalir di antara kami. Tapi mungkin juga, keadaan ini adalah satu dari beberapa hal yang membuat aku merasa hina jika harus bersamanya.
Suatu saat ku beranikan diri bertanya pada si Mbak tentang dia dan keluarganya… Dan mungkin keadaan ini juga adalah satu lagi dari beberapa hal yang membuat aku merasa hina jika harus bersamanya.

“Kau pasti kenal Mak-nya, itu perempuan yang sering keluar malam pulang pagi. Nggak tau entah mau kemana, sudah banyak sih, berita-berita miring tentang dia itu. Termasuk si Al itu, mana ada yang tau dimana bapaknya. Tapi seperti itulah rupanya gaya hidup mereka, nggak kau lihat Tantenya yang dua lagi, adik-adik Mak-nya, ikut jejak Mak-nya juga…” wwhhuuussssshhh….angin dingin sedingin es beku menyelesap masuk ke dalam jantungku, sesaat seperti menghentikan degupnya. Itulah hidup syahrial. Yang tidak ku nyana sama sekali bahwa dari keberadaan dirinya di dunia ini pun telah membangun tembok tebal di antara kami, begitulah dalam pemandanganku ketika itu. Di tembok dinding tebal prinsip dimana aku tumbuh dan besar sungguh sangat jauh dan beda warna dengan miliknya. Aku seperti dijatuhi berton-ton benda berat dalam hatiku yang sesekali membuat aku bernafas tertahan dan berat. Ingin kutangiskan sebuah sesal, kenapa aku bisa dikenalkan pada dunia yang seperti ini? Mesti dengan Syahrial pula? Kenapa nggak keadaan yang lain saja, walau semiskin apa pun syahrial, mungkin lebih dapat diterima oleh akalku.

Dan masih…pesonanya seolah masih mengukir impi dalam hatiku bahwa, toh dia sama sekali tidak bersalah dan manusia pasti bisa berubah, pasti, tidak diragukan lagi. Dan aku kembali masuk dalam dunia yang kami bangun bersama, masih tanpa pernyataan dan komitmen tapi seolah-olah hati kami mengerti. Seolah-olah aku mengerti bahwa setiap lagu yang dinyanyikannya sedang di alamatkan untukku, bahwa ketika dengan sengaja dia lewat di depan toko si Mbak adalah untuk melihatku, bahwa ketika aku ada di sana dan dia sengaja berlama-lama pura-pura membahas apa saja dengan si Mbak adalah ujung-ujungnya agar kami bertiga disana, dia, pengawalnya; Ajo dan aku punya waktu lebih lama, bahwa ketika dia bicara kepada Butet dengan suara kuat, kadang disengaja dengan teriak agar aku dapat mendengar suaranya dari kamar di dalam rumah kost persis di belakang toko si Mbak untuk beritahu bahwa dia sedang ada di sana, bahwa dia marah, semakin sering marah ketika seorang pria yang ku anggap Tulang (panggilan paman atau om untuk suku Batak) sering datang mengunjungi aku dan semakin sering belakangan ini.

Pernah suatu kali, ketika aku masih belum menyadari sepenuhnya posisi hatiku dan hatinya dalam line ini, tercipta suatu kejadian lucu dan konyol. Yang menimbulkan amarahku sekaligus pada dua orang pria.

Sore hari, ketika menjelang malam, Tulang datang setelah sekitar beberapa hari tidak datang karena di luar kota untuk satu acara. Kami bicara seperti biasa dengan hadir si Mbak, yang selalu ku maklumi bahwa dia datang untuk si Mbak. Akhirnya ketika waktu bergulir, si Mbak pergi karena suatu urusan, tinggallah aku berdua dengan Tulang melanjutkan cerita yang dibawanya. Muncullah Al dari dalam gang bersama pengawalnya, ku sambut dengan wajah memerah dan jantung berdebar karena hadirnya. Aku berpikir bahwa inilah jam nya dia akan berkeliling lagi untuk melakukan pekerjaannya dengan kupon-kupon itu. Tak sedikit pun terbersit dalam benakku bahwa aku telah bersalah duduk berdua bersama Tulang di teras ini. Sehingga aku tetap tak dapat menangkap sinyal kesal dan marah ketika dia lewat lagi setelah berjalan menuju toko yang berjarak sekitar 3 rumah dari toko si Mbak masuk ke dalam gang rumahnya. Tak berapa lama dia lewat lagi berdua dengan Ajo menuju toko yang di sebelah, untuk kemudian pulang lagi dan masuk ke dalam gang. Tak berapa lama kemudian, dia muncul lagi bersama Ajo dan menuju toko itu untuk kemudian kembali lagi masuk ke dalam gang.
Begitu sampai beberapa kali, persis di hadapan kami, tanpa menyapa dan lewat begitu saja. Kemudian untuk sekitar satu jam dia tidak tampak lagi dan kemudian datang dari arah mulut jalan masuk ke dalam toko si debelah dan duduk-duduk, aku masih bisa melihat bagian kepalanya di balik tembok pemisah dari toko itu, dengan sesekali berdiri dan memandang ke arahku duduk bersama tulang. Akhirnya aku mencium bau yang tidak enak dengan suasana ini. Tapi aku memilih diam dengan suatu paham bahwa aku tidak bersalah telah begini, aku hanya sedang bercengkerama dengan orang yang ku anggap pamong. Lagian salah dia, mengapa tidak datang saja dan bicara setidaknya mereka bisa berkenalan. Dan terjadialah kasus criminal kecil-kecilan itu.

“prangngng…!!!!!brruuukkkk…!!!!!!!” satu lemparan batu persis di atas atap toko si Mbak yang terbuat dari seng. Tulang berdiri dan melihat sekeliling mencoba cari titik, darimana gerangan penyebab bunyi atap itu berasal. Aku pun ikut berdiri, dan mataku bertubrukan dengan mata Al di toko sebelah, aku masih takut menduga bahwa ini adalah ulahnya. Setelah beberapa lama tidak ada tanda-tanda kami kembali duduk dan sebentar membahas kejadian batu yang jatuh di atas kepala kami dan melanjutkan pada cerita lain. Kemudain…

“pranngngng…..!!!prangngng…!!!brukkkkk….!!!!” aku menduga ada dua batu kini. Kemudian kami berdua berdiri bersamaan, terkejut dengan episode cerita bersambung dari batu-batu itu. Dan ah, aku semakin yakin bahwa Al telah melakukannya ketika mata kami bertubrukan lagi, dia berdiri dan memandang persis ke mataku dan walau aku semakin yakin bahwa dia adalah sutradara dari cerita bersambung ini, kuputuskan diam dan duduk kembali agar suasana tenang. Aku tidak bisa membayangkan Tulang akan mengeluarkan jurus mautnya untuk si pelaku pelempar batu tersebut. Kemudian…

“pranngngng…..!!!prangngng…!!!brukkkkk….!!!!braaakkkkk…!!!”, yap! Aku yakin ada tiga batu kali ini, kontan aku berdiri dan dengan pandangan yang menusuk kecewa ku hunjamkan ke mata Al yang berdiri di toko sebelah sana sedang memandang tepat ke mataku. Dan tanpa bicara panjang aku permisi pada Tulang dan masuk ke rumah, aku tidak ingin ada kejadian yang lebih dari itu, terlebih lagi, aku tidak ingin tau apa yang akan terjadi setelah itu. Aku terlalu takut membayangkan bahwa aku, malam ini, telah menyebabkan kerusuhan antara pihak yang sangat dekat di hatiku hanya karena kesalah pahaman.

Setiba di kamar, kutumpahkan segala takut dan amarahku dalam tangis. Aku tidak habis-habisnya merutuk diriku bodoh dan dungu. Bisa-bisanya jadi anak gadis penyebab kerusuhan. Apalagi ini bukan rumahku, ini bukan kampungku, ini tanah orang lain, aku hanya menumpang…nah lho…bisa-bisanya turut serta memberi kontribusi bagi biang kerusuhan, ppuuihhh, hampir saja, aarrrggghhhh….aku sungguh tidak bisa bayangkan kemungkinan-kemungkinan kejadian yang dapat saja terjadi di belakangku, sepeninggalku. ‘terserahlah Tuhan, tapi tolong jangan terjadi sesuatu apapun, mau ku taruh dimana mukaku?’ mohonku berulang-ulang sambil terus saja menelan sesal yang tak henti dalam hatiku, hingga menimbulkan sedikit benci pada Tulang dan Syahrial. Memangnya aku siapa mereka sampai harus dilibatkan dalam kejadian konyol semacam ini? Berkali-kali aku bersumpah dalam hati tidak akan bicara lagi pada Tulang karena dia sedikit telah menyumbangkan kesalahan, mengapa tidak disuruhnya saja aku tidur, toh sudah malam? Aku benci pada Al, mengapa dia nggak datang aja dan bergabung dalam percakapan itu? Tapi, hhhhh….aku tidak bisa janji tidak akan bicara pada Al.

Alhasil aku memutuskan berhibernasi saja hari ini. Bangun siang, makan apa saja yang ada di kamar, mandi dan kembali ke kamar. Aku tidak ingin melihat siapapun hari ini, seolah dunia sedang menunggu ku di luar untuk memuntahkah teror tepat di mukaku. Ketika hari bergulir menuju sore, baru akhirnya aku berani memilih duduk di teras rumah, dan tidak akan pergi ke teras toko, sampai ku pikir keadaan reda. Aku ingin memastikan tak satupun dari mereka itu ada di sana sedang duduk-duduk atau apa sajalah…

Tapi tak bisa tepat seperti dugaanku. Begitu aku duduk di bangku yang di bentuk dari bongkahan kayu pohon besar yang persis terletak di samping pintu keluar rumah menuju toko, begitu pandanganku lurus ke kiri, aku akan melihat aliran sungai dengan jembatan yang agak besar menghubungkan daratan sebelah sini dan seberang sana, ada 2 sosok dua pria sedang berdiri di sana dengan pandangan persis ke arahku, tepatnya ke arah pintu rumahku. Dengan tubuh yang di condongkan pada batangan besi penyangga sisi jembatan. Syahrial dan pengawalnya; Ajo. Dengan semerta-merta pandangan kami saling bertemu; hal yang tak dapat kuhindari, dia menusukku dengan tatapan tajam itu seolah-olah bicara banyak tentang hal yang tidak ku mengerti namun di sana ada sesal, permohonan maaf tapi juga marah, dan kadar yang dominan adalah cinta… dengan tidak sengaja aku melempar senyum, sekedar memberitahu bahwa aku tidak bisa marah sama sekali pada nya, atau apalah artinya, tapi aku benar-benar tidak dapat menahan senyumku padanya.

Tatapan matanya menerbitkan iba-ku pada keadaan hatinya…perlahan mereka bergerak dan berjalan ke arah rumah. Kami bertiga duduk diam membisu sesaat, posisi Ajo lama-lama menjauh dari kami, tapi dia masih di sana sambil diam, entah apa yang dipikirkannya…dan amarahku perlahan-lahan muncul dan menyelesak keluar dari hatiku melalui mata dan mulutku…

“Kalian kan yang lempar batu semalam ke atap?” tanyaku dengan emosi marah yang tertahan, dia diam hanya melihati aku dengan mimik rasa bersalah di wajahnya, mungkin sebagai wujud pernyataan yang tidak mampu di ucapkannya mempertahankan ego nya yang sedang diselimuti kelaki-lakian seoarang laki-laki yang terus terang saat itu tak ingin ku mengerti.

“Aku marah Al. itu benar-benar bukan tindakan yang dewasa. Aku takut karena aku disini bukan siapa-siapa, ini bukan rumahku. Bagaimana kalau rusak? Terus apa maksudmu melakukan itu?”
Kini di jawabnya aku dengan diam sambil menundukkan kepalanya memandang tanah, sambil meremas-remas tangannya…dan bau itu, bekas di jari telunjuknya…

“Kau merokok lagi?” tanyaku kali ini dengan sikap menuduh dan merasa dikhianati.
“Ya, maaf, aku kelepasan semalam… Jangan marah. Telah sebisaku untuk tidak menyentuh benda yang satu itu…”
“Al, jangan bilang semalaman kau kembali ke pesta itu…?” tanyaku dengan miris sebagai gambar dari hatiku yang pedih jika mengingat ternyata dia pun sama-sekali tidak menghargai dirinya sendiri…
“Al…???” tanyaku lagi dalam bisik, menuntut kejujurannya dengan miris hati… dengan gagap dijawabnya, entah benar atau bohong…
“Nggak, aku nggak pernah lagi Ka, percayalah, tanya saja Ajo. Mereka teman-temanku, jadi aku datang ke sana sebagai teman, tapi tak satu isapan pun yang singgah di bibirku. Aku hanya merokok, tidak lebih dari itu, ia kan Jo?...” Ajo mengangguk mengiyakan dan ia kembali ke game-out yang sedang di pegangnya.

Aku berusaha menguasai kaca-kaca bening yang hampir berbentuk di kelopak mataku. Aku benar-benar benci sisi dirinya yang satu itu, aku sangat benci jika harus terlibat dengan manusia yang seperti itu. Aku merasa diriku begitu hina karena telah rela terlibat jauh dengan manusia ini, dengan segala kejahatan dan kenakalan yang melekat padanya sangat bertentangan jauh dengan prinsip yang selama ini ku kenal. Aku benci merasa dikhianati…

“Ka, jangan marah padaku. Aku punya alasan kenapa demikian, mengertilah keadaanku. Aku benar-benar dikuasai amarah padamu, aku cemburu melihat kau dan dia, siapa dia kau panggil? Tulang ya? Entah apapun itu…dan parahnya lagi, aku sengaja bolak balik di depan kalian agar kau mengerti bahwa aku sedang marah, eh kalian masih saja tetap disitu, sampai malam pula. Jadi apa itu Tulang? Masakan malam minggu ngomong berdua, lama-lama pula…kau ngerti kan maksudku? Itu masih mendingan hanya lemparan batu di atap, lain kali mungkin tidak akan seringan itu, pokonya aku tidak suka melihat mu dengan dia lagi, apalagi sampai lama-lama begitu…” Ku coba mencerna kata-katanya agar kumengerti perasaannya. Ya ampun…sampai segitunya…hatiku membuncah menggejolakkan satu rasa yang kuat mencengkeram hatiku mendengar semua pengakuannya, semakin jelas arah yang hendak dia tunjukkan padaku, hubungan dia dan aku..

“Tapi Al, dia Tulang…” ku coba memberi pengertian tentang hubungan yang memang tidak ku mengerti dengan Tulang, tapi sungguh di dalam hatiku, dia hanya seorang Tulang, tidak lebih…
“Coba bayangin jika kau punya Om atau Tante, masakan salah kau bicara berdua dengan mereka walau mungkin sampai lama…?” perlahan amarahnya mereda… di pandangnya aku dengan bahasa orangtua pada anaknya …
“Kau harus mengerti siapa dirimu di tempat ini. Kau harusnya menyadari bahwa kau hanya pendatang di tempat ini. Kau harus jaga sikap. Kau pikir baik jika kau ada di luar rumah sampai malam dengan pria, hanya berdua pula. Apa yang orang lain pikirkan tentang dirimu? Ngerti kan maksudku?”
“lagian kau datang kemari mau sekolah kan? Kerjaan anak sekolah tuh belajar, bukan main-main…” ah…aku benci mendengar pernyataan itu…memangnya kalau aku hanya kost-an di sini, lantas aku harus berbeda dari setiap orang yang ada di tempat ini? Tapi ku jawab dengan diam. Tidak tau menjawabnya dengan apa, karena ku akui, sedikit ada benarnya juga, tapi dengan berkata begitu dia semakin menambah kesal-ku terhadap diriku sekarang.

“Kau benar-benar lain, tiru tuh kakak-kakakmu, mereka nggak sesering kau bisa diluar gitu, dengan laki-laki pula…” memang, kakak-kakak kelas ku yang lain suka nya mendekam di kamar, tapi itu kan karena mereka akan ujian? Tapi aku diam saja…dengan rasa bersalah telah melakukan kesalahan seperti yang telah dikatakannya. Ku angkat kedua kakiku dan mendekap lututku. Dengan gaya dan sikap yang tidak ingin bicara apa-apa lagi, mataku menerawang ke arah sungai itu. Dicobanya memandangku, tapi ku acuhkan, mungkin sedang mencari kata-kata lain agar dapat bicara padaku…
“Hei, maaf kalau kau nggak suka aku bilang begitu…”  bujuknya dengan nada merasa bersalah.
“Ka, ngomong dong…”
“Aku nggak suka kau jadikan satu pihak yang diperbandingkan begitu, aku tetap merasa aku nggak salah, toh aku nggak melakukan apa-apa, dengan kau berkata begitu, seolah-olah aku telah melakukan sesuatu yang sangat salah, terus, mereka nggak keluar rumah sesering itu, kan karena mereka akan ujian. Pokoknya aku nggak suka”
“Ya udah maaf, tapi ini benar-benar dari hatiku. Nggak bagus anak gadis berlaku begitu. jangan diulangi lagi” yah…dia tetap ngotot dengan pendapatnya dalam bahasa yang lain, sama saja toh?
“Ayo jangan marah lagi, senyum dong” bujuknya dengan menampilkan senyum manisnya, dan mau tidak mau ku sambut dengan senyumku.
“Nah, gitu dong…” kami sambut dengan tawa lepas dan kembali pada diam kami masing-masing.
“Ka, nanti malam keluar ya, bisa kan kita ketemuan?”
“Yee…gimana sih, katanya tadi jangan keluar, apalagi kalau malam, trus ketemu laki-laki pula. Nggak mau ah…”
“Yah… kalau ketemu samaku nggak apa-apa lah Ka…” ucapnya sambil tersenyum menggoda dan ku sambut dengan dongkol…
“Kan tuh, ada maunya, emang aku ini siapa mu bisa-bisanya kau atur aku bisa ketemu dengan siapa dan tidak bisa ketemu dengan siapa. Nggak mau ah, trus lagian emang mau ngapain? Nih juga udah ketemuan”
“Nggak enak aja suasananya…aku mau tidur dulu nih Ka, semalaman begadang, trus mandi dan beresberes atau apalah. Aku mau mengatakan sesuatu padamu…”  … ssseeeeerrrrrrrr…darahku naik ke kepala dan wajahku memanas memerah. ‘mengatakan sesuatu?’ ‘apa itu?’.
“Ah nggak mau, aku nggak mau keluar, aku mau belajar.” Tukas ku sambil berdiri dan bergegas masuk ke rumah.
“Aku datang jam 8 ya, sebentar saja” katanya seolah-olah yakin aku setuju dan aku masuk ke dalam rumah. Ya ampun…mau bilang sesuatu? Apa itu? Tiba-tiba ketakutan menyelimuti hatiku. Aku benar-benar tidak siap mendengar apa pun yang mungkin akan di katakannya nanti. Membayangkannya saja, debaran di hatiku kencangnya bukan main dan aku sudah sesak nafas. ‘Pliz jangan bilang apa-apa, begini lebih baik Al, toh kita mengerti ada apa di antara kita berdua…’ ku mohon berulang-ulang dalam hati. Dan aku membayangkan keretakan yang luar biasa akan terjadi setelahnya…

Aku akhirnya hadir dalam konferensi kecil-kecilan itu, di teras rumah butet, di sebelah rumah kost-ku, diihadiri Ajo, Butet dan adik-adiknya, Syahrial dan aku. Ini setelah Butet berulangkali datang ke rumah dan memanggil-manggil aku agar keluar dari kamar, akhirnya ku penuhi karena tidak ingin membuat suasana di dalam rumah rusuh dengan keadaan itu. Jika ingin kugambarkan, suasana ini sangat tidak menyenangkan bagiku. Butet dan adik-adiknya saling berbisik-bisik dan sesekali tertawa cekikin. Aku kesal, emang ada ketoprak humor di sini apa? Sementara Ajo, dengan setia di samping Al, dengan gaya kalem-nya seolah-olah memberi penguatan pada Al. ‘apa-apaan ini?’ pikirku.

“Ayo dong bang Al” Butet menimpali, “ya, ya, ayo…” adik-adiknya menimpali kata-kata Butet.
“Ada apa sih Al?, mau bilang apaan?” desakku, tidak sabar dengan keadaan ini.

Sementara Syahrial semakin gugup tergambar dalam keadaannya, sesekali menyeka wajahnya dengan telapak tangannya dan merapikan rambutnya, yang dalam hal ini sama sekali tidak ada rambut yang perlu dirapikan, karena bagaimana pun keadaan rambutnya dia tetap mempesona. Tapi entahlah, setelah ini, apakah dia masih akan se-spesial itu dalam hatiku atau tidak, aku ragu. Suasana dalam konferensi kecil-kecilan telah membukakan sedikit pintu yang kelak akan memisahkan kami dari ikatan batin yang telah kami sepakati tanpa kata selama ini.
“Ka…” dan dia diam lagi…
“Mmm…aku harap tidak ada yang salah dengan kata-kataku nanti…” dan dia diam lagi…
“Ka…”
“Ayo bang, ayo…” Butet dan adik-adiknya menimpali dalam bisikan-bisikan yang kedengaran (artinya bisik-bisiknya kuat, bukan dalam porsi bicara).
“Ka…aku mencintaimu…” wwhhuuusssss…angin dingin, sedingin kutub menyelimuti hati dan rasaku. Tepat seperti dugaanku akan begini keadaannya. Aku hanya mampu diam dan tak mampu bereaksi atas pernyataan itu…
“Trus bang, trus…” desak Butet dan adik-adiknya lagi dalam bisik-bisik yang kedengaran itu…
“Ka, maukah kau jadi kekasihku? Ehhmmm…apakah kau mencintai aku juga?...” dan aku masih diam belum menanggapi pernyataan dan pertanyaan itu. Apa yang mau ku katakan? Aku tidak tau. Tidak ada satu alasan pun dalam hatiku bahwa aku harus mengatakan hal yang sama…
“ayo kak Eka…ayo, jawab dong…” desak Butet dan adik-adiknya lagi dengan bisik-bisik yang kedengaran itu.
“Ya Ka, jawablah, masak diam aja, Al udah berjuang mati-matian untuk malam ini lho…” timpal Ajo lagi.
“Bilang ya dong kak Eka…bilang ya…” desak Butet kali ini. Dan dalam sekejap waktu aku harus membuat suatu keputusan kilat berdasarkan semua bukti dan hal yang telah pernah terjadi di antara kami selama ini, yang berkelebat dengan cepat dalam alam pikirku. Jujur kali ini, pikir dan logika ku sangat banyak ambil peran, tak satupun rasa dalam hatiku bicara. Kenyataan tentang siapa aku dan naturku bertubrukan keras dengan kenyataan siapa dia dan seluruh hidupnya. Sementara Al, dengan segala gugup dan gagapnya menanti dengan pandangan, yang kali ini, tidak lagi se-membahana sebelum-sebelumnya. Dan ‘ah…apa yang harus kukatakan?’ bisikku dalam hati.

“Ayo dong kak…” sekarang Butet setengah merengek… remaja tanggung itu seolah sangat ingin berada dalam posisiku dan meraup semua kesempatan ku untuk mengatakan YA, sedikit menyingkap kenyataan yang selama ini disimpannya terhadap Al. ‘Ah Butet, ambil aja posisi ini’ jawabku dalam hati.
“Ka…” panggil Al kali ini. Ku duga, mungkin dia berpikir semua akan berjalan seperti apa yang di harapkannya. Seharusnya memang ya, jika meninjau ulang semua yang telah pernah terjadi di antara kami. Apalagi sesungguhnya hatiku pun ingin memilikinya, hati perempuan-ku yang diselimuti dengan sejuta fantasi rasa yang tebal dan menghangatkan seluruh rongga ragaku, yang lepas dari logika dan pikirku, sangat ingin mengatakan YA dan kami jadi sepasang kekasih, jadi apa lagi?... selisih tipis ini akhirnya menang menguasai alam pikir dan gerakku, seperti proses dalam pembelajaran ketika dalam arena cognitiveku aku paham, secara affective aku setuju dan psikomotorku mengerjaknnya, tanpa pikir panjang, aku menganggukkan kepalaku.

“Yiihhaaa…!!!”sorak Butet dan adik-adiknya kegirangan seolah-olah tengah puas akan satu episode film drama yang sesuai dengan prediksi mereka. Ajo merangkul pundak Al, dan Al spontan bangkit dari duduknya, dengan berdiri menatap langit-langit mengulum rambut dalam kedua telapak tangannya dan … “Yesss…!!!” sambil merentangkan tangannya di udara.
Aku? Aku tergugu diam dalam pikir yang seolah tersesat di tengah paham yang merantai dan menawan aku secara paksa. Aku seolah tidak rela telah memutuskan demikian, dan…
“Bang Al dan kak Eka…” teriak Butet dan adik-adiknya lagi… dan aku tidak tau harus berbuat apa lagi setelah ini, aku berlari masuk ke rumah dan mengunci diri dalam kamar. Aku tau ini menimbulkan heran yang luar biasa dalam hati mereka. Berkali-kali Butet masuk ke rumah dan memanggil-manggil namaku, dan terakhir, selama 3 kali, Al akhirnya masuk ke dalam rumah (padahal suatu pelanggaran besar ketika itu, laki-laki masuk ke dalam rumah kami) memanggil-manggil aku dan bertanya ada apa? Namun aku, dengan gejolak gila yang luar biasa berusaha menahan amarah terhadap diriku sendiri dengan telentang di atas tempat tidurku, kaki ke atas selonjor di dinding dan kepala ku juntai ke bawah. Aku ingin melempar diriku, andai bisa, ke laut yang paling dalam yang ada di muka bumi ini. Aku merutuki diriku sebagai perempuan bodoh dan hina. Semua hal yang aku dan keluarga ku perjuangkan selama waktu aku hidup di dunia berkelebat cepat menayangkan kejadian itu satu-per-satu dalam layar  lebar dan aku telah, dalam sekejap mata, menghianati perjuangan itu. Bagaimana bisa, hanya karena sepotong rasa dari naluri perempuanku, aku berhasil telah menghianati keluarga besar yang telah mati-matian berjuang ini dalam prinsip yang telah dibangun sejak sebelum aku ada di tengah-tengah dunia? Bagaimana mungkin, aku, telah menoreh aib besar kelak jika, barusan tadi aku telah , dengan tidak langsung, mengikat janji dengan Al? Syahrial, pemuda tanggung putus sekolah, yang baru saja berjuang keluar dari dunia gelapnya; rokok, ganja dan minum, yang tak satupun orang yang kukenal di tempat ini yang tau dimana bapaknya, dan ah…satu hal yang selama ini yang terlupakan adalah keyakinan kami berbeda. Ini adalah jurang terdalam yang dapat ku temukan dari semua grafik perbedaan  yang telah ku susun dalam benakku.

Dan…bisa-bisanya, aku, dengan alasan rasa yang sedemikian mencengkeram hati perempuanku, masuk dalam jurang itu, yang aku tidak tau sama sekali apakah kelak yang akan terjadi? Sambil mendesiskan rutukan-rutukan kejam atas diriku, yang diiringi airmata, aku tetap dalam keadaan posisi tubuh begitu sampai pagi buta. Ketika akhirnya aku mengambil sebuah keputusan yang baik menurutku, yang terkejam mungkin bagi Al. kuputuskan untuk melupakan kejadian semalam, otomatis beserta seluruh kejadian yang pernah ada di antara kami, dan menganggap bahwa kejadian semalam tidak pernah terjadi. Aku membulatkan tekad dan menghimpun kekuatan untuk membuat ikrar ini menjadi kenyataan yang harus ku paku-kan dalam setiap tindak dan laku ku kemudian setelah ini.
Ku mulai hari pertama dengan ikrar yang telah tertanam jauh di dalam lubuk hatiku. Sangat sulit dan menyakitkan, dan aku tau jauh lebih menyakitkan bagi Al.

Terlebih dalam ketidak-tahuannya mengapa aku memilih bersikap begini. Seolah tidak mengenalnya, seolah tidak pernah ada terjadi apa-apa di antara hati kami, seolah dia bukan siapa-siapa yang harusnya ku perlakukan istimewa seperti sebelumnya, yang pasti; seolah aku tidak mengenal dia. Aku hanya lewat di hadapannya ketika dia duduk di teras toko si mbak, kali ini hampir setiap pagi ketika aku akan pergi sekolah dan ketika aku pulang sekolah, sore hari ketika waktu-waktu dulu aku sering ada duduk disana, aku hanya lewat tanpa sapa, tanpa senyum bahkan tidak menyinggahkan mataku padanya, seolah tidak ada sesosok manusia di sana walau aku tau pedih dan perih ada dalam hati kami, mungkin dengan kadar yang jauh lebih besar dalam hatinya. Setibanya di kamar, aku menghadap bantalku dan mulai sesenggukan. Berusaha meredam rasa cinta dalam hatiku yang menyelesak makin kencang dan kuat bahkan setelah kejadian malam itu dan setelah ikrar kejam yang ku tanamkan dalam hatiku. Seringkali Al memanggilku…tapi dengan sikap seolah aku tidak mendengar apa-apa aku berlalu begitu saja. Dia tetap mengadakan konser di ‘panggung’nya dengan lagu menyayat hati dan sering meninggalkan tanya yang tertuju padaku, ku dengar dengan isakan tangis dari dalam kamarku. Berkali-kali Ajo mendatangi aku dan bertanya ada apa, yang ku jawab dengan berkata tidak ada apa-apa. Pernah akhirnya seorang temannya yang lain mendatangi aku dengan serius bertanya ada apa…

“Ka, kau harusnya bilang sesuatu pada Al. dia hampir gila telah kau perlakukan begini. Apa maksudmu dengan semua ini? Dia sangat mencintai kau. Terlalu malah. Nggak ada sebelumnya orang yang bisa menahan semua tindak lakunya agar berbalik ke jalan yang benar. Dia mau sekolah karena kau bilangin, dia lepas dari pesta ganja kami karena memikirkan kau, di berjuang tidak merokok karena kau bilangin, apa lagi yang belum dilakukannya untukmu?...”

“Itu semua untuk dirinya sendiri bang, demi kebaikannya…” jawabku agar seolah aku tidak terlalu bersalah dalam hal ini.
“Ia, kau benar, dan dia tau apa yang baik dan yang nggak bagi dia itu karena kau. Aku mengatakan ini agar kau mengerti seberapa besar arti dirimu bagi dia. Sampai sekarang, setelah hampir sebulan kau perlakukan dia begitu, dia masih bertahan Ka. Dia masih yakin dengan jawabanmu malam itu bahwa kau juga mencintai dia. Dia bertahan tidak menuruti bujukan kami. Dia uring-uringan dengan gitarnya. Dia gila karena kau. Dan hal yang paling memalukan bagi kami laki-laki, dia sampai menangis setiap kali menerima perlakuanmu yang menganggap seolah dia tidak ada. tolong katakan sesuatu Ka, dia masih menunggu. Dia masih setia dengan keyakinannya malam itu tentang jawabanmu…”

“Nggak ada apa-apa kok bang, semua biasa saja. Nggak ada yang salah. tolong sampaikan maafku padanya…” adalah kalimat yang kupikir paling baik saat itu ketimbang harus mengatakan alasan yang sebenarnya, yang pasti akan lebih menyakitkan.
“Kau benar-benar perempuan kejam Ka…aku nggak habis pikir, ternyata perempuan secantik ini dan yang selama ini bersikap manis, sekejam ini…” desisnya tajam persis di muka ku dan dia berlalu pergi. Aku berlari kembali ke kamarku, dan menangis dalam dekapan bantalku. Tidak ada lagi hal yang paling menakutkan di dunia ini kecuali di beri cap kejam karena menyakiti hati orang, ini benar-benar manyakitkan. Dan aarrrggghhhhh!!!aku ingin teriakkan pada semua orang bahwa aku pun sangat sakit.
Sungguh sakit ketika akhirnya aku harus mematikan perasaan cinta yang semakin lama semakin kuat tertanam dalam hatiku, terlebih ketika ternyata kami saling mencintai dan terlebih lagi dia pun sakit, sangat sakit dengan ulah ini.

Dan pembicaraan terakhir dengan Syahrial terjadi malam itu, pembicaraan yang tak kalah menyedihkannya, meninggalkan sakit di hatiku dan mungkin lebih dalam lagi dihatinya. Suatu malam, waktu yang kupilih untuk pindahan dari rumah ini ke kost yang lain, dia datangi aku, pertama dia hanya berdiri jauh dariku. Mungkin dia tau hal kepindahanku dari Butet. Aku pun hanya diam mematung, tidak ada terbersit sedikitpun inginku untuk pamitan padanya, sebagai tindakan totalitas ikrar kejam yang telah kuputuskan malam itu, tapi dia di sana… perlahan dia datang menghampiri aku, dalam remang malam itu, dalam suasana hati yang gugup di antara kami, dengan gagap dia bicara…
“Ka…kau mau pergi juga nggak bilang-bilang? Kau benarbenar serius dengan semua ini Ka? Aku masih berharap kau hanya sedang main-main Ka…”

Respon yang dapat ku berikan hanya dengan membuang wajah dan diam, aku sama sekali tidak ingin memandang luka itu lama-lama.
“Ka, bicaralah satu dua kata padaku. Agar aku tau harus bagaimana selanjutnya…”
“Nggak ada apa-apa Al…semua baik-baik saja.”
“Tapi kenapa begini? Kau bahkan mau pergi nggak bilang-bilang mau kemana?”
“Itu nggak penting Al…” jawabku seola-olah seringan itulah hatiku, sekuat dayaku mencoba menahan airmata yang mulai menggenang di pelupuk mataku. Aku tidak ingin dia tau bahwa posisi rasa kami sama.
“Tapi nggak bisa begini Ka, tidak segampang itu, aku benar-benar tidak mengerti. Ini menghancurkan aku Ka…”
“Al, pliz…jadilah laki-laki. Jangan sampai masalah kecil ini menghancurkan dirimu. Teruslah berjuang untuk jadi lebih baik…”

Dan aku pergi bersama bus yang ku tumpangi. Meninggalkan Al dan semua kenangan terindah dan terpahit yang terjadi di tempat itu. Sama sekali aku tidak ingin menolehkan mata pada Al. sedikitpun tidak. ‘Al…maafkan aku, aku juga merasakan hal yang sama…’ bisikku, berharap angin dapat menyampaikan ini pada Syahrial dan sedikit mengobati amarah dan luka yang telah ku toreh dalam hatinya… Miris melihat keadaannya, aku seolah-olah telah menjadi pecundang terbesar didunia ketika aku telah memilih untuk tidak bicara dengan baik-baik perihal rasa dan hatiku. Namun ku hibur diriku, bahwa ini lah pilihan terbaik yang dapat kulakukan.

2000
Diluar sangkaanku bahwa kami akan bertemu lagi, dalam keadaan dan kondisi diri dan hidup kami yang sudah sangat berbeda dari ketika pertama kami bertemu dulu. Dan perasaanku tidak sebahagia yang kubayangkan sebelumnya. Dulu, setelah perpisahan itu, aku berulangkali berharap dapat bertemu lagi dengannya, setidaknya hanya melihat dia dan senyumnya. Aku telah melewatkan waktu-waktu berjuang menahan sakit dan rinduku pada Al. Dan pertemuan ini ada lagi seolah-olah tidak ada gunanya. Dia muncul bersama dirinya yang utuh dengan segala kehancurannya. Keadaannya seolah-olah hendak teriakkan padaku bahwa ini adalah akibat ulahku.

Dia dan teman-teman gang-nya ketika itu mencoba menyelusup ke kost-kostan anak laki-laki, semacam perluasan wilayah kekuasaan untuk sindikat yang mereka bangun. Sindikat kecil-kecilan yang mereka bentuk dulu ternyata masih ada sampai sekarang dan mencoba menanamkan pengaruhnya di kost-ku yang bersebelahan dengan kost laki-laki.

Tubuhnya semakin mengecil, nyaris tulang dibalut kulit yang sedikit lebih tebal saja. Wajahnya kusut dengan potongan rambut aneh gaya anak-anak jaman itu yang sedang trend. Yang paling menyedihkan, tidak ada sama sekali, sedikitpun sinar di wajahnya seperti dulu, semua hilang tidak berbekas sama sekali. Pribadi ini sama sekali berbeda, menjadi seseorang yang tidak ku kenal sama sekali. Masih dengan senyumnya dia menyapa ku dengan diam agak tertegun, tidak menyangka bahwa kami akan bertemu di sana, terlebih untuk tujuannya yang mengerikan itu. Akhirnya kami punya waktu untuk duduk bersama, sementara teman-temannya yang lain bergabung dengan anak-anak kost di teras rumah sebelah main kartu sambil minum Vodka.

Kami banyak diam, aku tidak tau harus bicara apa, mungkin dia juga begitu. Dia diam tepekur menatap tanah di halaman depan kami, sesekali memandang langit dan sesekali memandang ke arahku yang akan ku sambut juga dengan pandangan diam. Ku telusuri tubuh krempeng itu. Masih dengan style necis seperti dulu, tapi sama sekali berbeda kini, seolah-olah baju itu ada di tempat yang salah. Pemiliknya pasti telah salah menyangkutkan pakaian itu di sana. Dengan rasa hati yang hendak menangis memandang pemandangan itu, kuperhatikan mulai dari wajahnya, ku coba yakinkan diriku bahwa itu masih Al. Wajah itu penuh dengan penderitaan, menyiratkan sejuta cerita yang tidak dapat diungkapkannya namun terperangkap dalam jiwanya yang selalu di komunikasikannya dalam tawa, karena itulah satu-satunya cara yang dia ketahui. ‘Al…’ bisikku dalam hati, ‘apakah dengan keberadaanku dalam hidupmu segala sesuatu akan jadi lebih baik?’, tapi aku tidak yakin demikian. Ku telusuri ke tubuhnya, lengannya penuh dengan bekas luka sayatan-sayatan halus. Hatiku bergidik halus membayangkan kenyataan yang hendak diceritakan oleh bekas luka itu. Entah sudah berapa banyak darah yang mengalir dari sana untuk kembali ditelannya. Selebihnya, dia betul-betul masih Syahrial.
Dan aku masih tak juga menemukan kata-kata yang hendak kukatakan padanya. Akhirnya pertemuan itu berakhir tanpa ada hal yang berarti. Satu-satunya hal yang dapat saling kami bicarakan adalah…
“Bagaimana kabar selama ini?”. Dan kesimpulan yang ku peroleh dari pengakuannya adalah; ini terpaksa dilakukannya, satu-satunya dunia yang ditemuinya dan yang paling mungkin dimasukinya adalah dunia ini. Sempat kutanya,
“Walau dengan kondisi yang begini Al?”,
“Pasti ada kondisi dari keadaan yang kita pilih jalani Ka, satu pilihan punya konsekuensi di ujungnya, dan yang ku tau, aku tidak punya pilihan Ka, satu-satunya dunia yang ku kenal adalah ini” jawabnya dan selanjutnya tidak ada lagi. Dia telah dapat dengan gamblang mengemukakan perbedaan kami kini, dia telah mendapat pemetaan posisi kami akhirnya walau dengan istilah yang mungkin berbeda dengan milikku. Mungkinkah ini?; bahwa aku adalah satu-satunya dunia yang dulu harusnya mengenalkan sisi lain dari hidup padanya? Satu tanya lagi, apakah jika dahulu aku mau jadi kekasihnya, keadaannya akan menjadi lebih baik? Apakah semua deritanya ini tidak akan terjadi, atau hanya ketakutanku yang keterlaluan menduga bahwa akulah yang akan terseret jauh ke dunianya dan ikut menghancurkan hidupku. Sejahat itukah aku? Salahkah aku? Dan banyak pertanyaan-pertanyaan penghakiman yang kutujukan pada diriku bersamaan dengan kalimat-kalimat pembelaan diri bertempur dalam benakku.
Dan yang lebih menyakitkan adalah ketika akhirnya aku ditemukannya telah pacaran dengan Bambang, seorang laki-laki dari kost sebelah, salah satu yang terbaik dari kumpulan laki-laki itu, walau untuk satu alasan-pribadiku ini terjadi, antara aku dan Bambang. Dengan polos dia bertanya nggak habis pikir,

“Apa bedanya aku dengan Bambang Ka?” yang ku jawab dengan diam, bahkan tidak sanggup memandang matanya yang menuntut. Sering setelah kejadian itu, dia bersikap seolah-olah dia berhak mendekati aku dan bersikap seperti dahulu kami pernah jalani. Kadang seolah tidak tau beda diriku dulu dan kini. Sesaat aku berdiri di dua badan jalan yang menyesatkan pikirku. Aku tau dia sangat terluka, namun juga aku harus bisa mengerti siapa aku kini terlebih setelah Bambang ada di hidupku.
Dan…kisah syahrial berakhir dalam potongan-potongan jalan hidupku setelah itu. Dia dan gang-nya tidak pernah muncul lagi di sini. Aku tidak pernah tau apa alasannya, apakah karena semua anak kost di sini tidak mau di pengaruhi niat jahat mereka, atau mereka sudah mendekam di sel, penginapan langganan mereka lagi atau entah apa, aku tidak pernah tau. Namun syahrial akan tetap ada dalam kisah-kisah indah dalam lembaran kisah hidup seorang gadis remaja, kisah yang menitipkan sejuta pelajaran tentang hidup, kisah yang akhirnya berakhir dengan sakit untuk suatu kebaikan yang dipilihnya. Aku sudah cukup banyak kali menyalahkan diriku, berharap tidak ada lagi oknum yang akan merutuk ku atau mempersalahkan aku. Aku sudah sebisanya berbisik pada Khalik yang Empunya dirinya agar dia tetap beroleh damai untuk hidupnya, walau jalan apa pun yang telah dipilihnya.