Selasa, 2 September 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 2 September 2014 | 01:33 WIB
Makassar, Rotterdam, dan Jazz
Penulis: | Minggu, 2 Agustus 2009 | 06:22 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Kompas/Dahono Fitrianto
Saksofonis Indra Azis dan musisi Riza Arshad bermain dalam ajang Jazz@Fort Rotterdam di Benteng Fort Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (1/8) malam.

DAHONO FITRIANTO

 

 

 

KOMPAS.com - Apa hubungan Kota Makassar di Sulawesi Selatan dengan Kota Rotterdam di Belanda? Belum ada yang spesifik memang, kecuali bahwa di Makassar terdapat benteng peninggalan VOC bernama Fort Rotterdam. Namun, tak lama lagi, dua kota itu akan memiliki semangat yang sama, yakni jazz.

Rotterdam di Belanda sejak 2006 menjadi tuan rumah bagi salah satu festival jazz terbesar di dunia, North Sea Jazz Festival, yang tahun ini sudah memasuki penyelenggaraan ke-34. Sementara di Benteng Fort Rotterdam (diambil dari nama kota Rotterdam, tempat kelahiran Gubernur Jenderal VOC Cornelis Speelman yang menaklukkan Raja Gowa di Makassar pada 1667), Makassar, mulai tahun ini akan digelar festival jazz bernama Rotterdam.

Festival jazz di Makassar? Dari hari Sabtu (1/8) hingga Minggu malam ini, publik Kota Angin Mamiri ini mendapat kesempatan menikmati musik jazz yang dibawakan berbagai artis dan grup jazz, baik dari Makassar maupun musisi jazz dari Jakarta.

Di halaman dalam benteng batu, yang aslinya dibangun oleh Raja Gowa X pada tahun 1545 itu, dibangun dua panggung (masing-masing dengan tata suara berdaya 30.000 watt dan 20.000 watt) sebagai pentas para artis jazz ini. Pada hari pertama, festival akan dibuka oleh band-band jazz Makassar, seperti Groundstroke, Mangara Jazz Project, dan Phinisi Band. Nama terakhir ini sudah teruji tampil di ajang Java Jazz Festival di Jakarta tahun 2008 dan 2009.

Menginjak malam, grup-grup dari Jakarta mulai unjuk gigi. Ada Indra Azis-Beat Bop Project yang menampilkan Riza Arshad dengan bintang tamu gitaris Zarro Ananta dan vokalis Mian Tiara. Penampilan mereka disusul oleh Oele Pattiselano Trio (gitaris Oele Pattiselano didampingi Jeffrey Tahalele pada bas dan Cendy Luntungan pada drum) menampilkan penyanyi ayu Iga Mawarni. Gilang Ramadhan and Friends, yang mengajak bintang tamu gitaris Tohpati Ario Hutomo, menutup penampilan hari pertama.

Hari Minggu ini akan tampil La Biri, grup jazz asli Makassar yang juga tampil di Java Jazz Festival, Maret lalu. Lalu ada Jad & Sugy dan kelompok Ricky and The Strangers. Sementara artis-artis Ibu Kota akan diwakili Trio Zarro (bersama Ivan Nestorman dan Mercy Dumais) dan grup NERA, di samping penampilan kembali Indra Azis-Beat Bop dan Oele Pattiselano Trio.

Citra

Begitulah, Kota Makassar, yang selama ini selalu dikenal dengan demonstrasi rusuh atau tawuran antarmahasiswa, berusaha bangkit melawan citra negatif yang telanjur melekat. ”Makassar selama ini dikenal sebagai tempatnya orang-orang kasar dan demo-demo yang rusuh. Padahal, itu citra yang salah,” ungkap Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin di Makassar hari Jumat (31/7).

Gelaran Rotterdam (JFR) ini diharapkan ikut membantu mengubah citra buruk Makassar itu. Hendra Sinadia (44), pendiri dan pemimpin One Note Production, penyelenggara JFR, prihatin dengan pencitraan Makassar selama ini. ”Padahal, Makassar adalah kota terpenting di Indonesia bagian timur. JFR diharapkan akan membuat orang berpikir bahwa kota ini adalah kota yang berbudaya dan menarik untuk dikunjungi,” tutur Hendra, asli Makassar yang tinggal di Jakarta.

Hendra memang bukan orang asing di dunia pertunjukan jazz Tanah Air. Tahun 1999, saat bekerja di Batam, ia turut mendirikan Batam Jazz Forum, yang kemudian menggelar Batam International Jazz Rendesvouz tahun 2001. Ia juga turut mendirikan Makassar Jazz Society pada 1988 dan tahun itu juga menggelar Jazz Goes to Campus di kampus Universitas Hasanuddin dengan mengundang grup Karimata. ”Teman-teman yang dulu terlibat dalam Jazz Goes to Campus di Unhas itulah yang saya ajak gabung kembali untuk membuat JFR ini,” tutur Hendra.

Musisi Gilang Ramadhan, yang terlibat dari awal penyelenggaraan JFR dan menjadi semacam ”kurator” festival ini, mengharapkan JFR akan menjadi pemicu acara-acara kebudayaan lain yang akan melibatkan dan memberikan dampak turunan positif bagi seluruh warga Makassar dan sekitarnya.

Dengan demikian, suatu saat, Makassar akan benar-benar menjelma sebagai kota dunia yang sejajar dengan Rotterdam, seperti impian Hendra, Ilham, dan setiap warga Makassar lainnya.

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :