Berpuisi
benahi diri sebelum pagi sempat menjelma sendiri
berpijak diantara distorsi nada nada cinta
yang bergelombang alpha beta gamma radigta sapta interlova
jijitan kata bergeligir gulir menggeladah rata
diantara bubun yang menggumbun
membentuk baharu, menuai gaharu,.
cendekia laksana.,.
hari ini bukanlah dua minggu lama yang tak bertatap mata,.
hanya sebagian dari empat tahun lebih penantian,.
sebelum mengawalinya dengan puisi,
dan esok takkan datang, sedetik kemudian kita tlah berjumpa lagi,.
dalam suatu distorsi sebelum kau ucap kata cinta dimana aku telah berada di tempat yang sama lagi,.
Istanbul, Turki.
Juni, 2009
Untitled
Di antara sedikit celak mata terdapat tawa,.
Di antara serapuh bunga jingga terselaput canda,.
Dalam keberadaan hati yang singkat, begitu mengusung dara
Dalam keramaian pesisir jagat, sebegitu pekat menyelinap diantara lara
Pewarnamu adalah angin selat marmara,
Perangaimu jubah laut mediterania,
Keberpandanganmu selubung arah mata angin,
Yang membasuh sebahagian dengan sedikit kebahagiaan.
Hingga kini memang cetak hitam belum terseluncur datar tergambar
Namun apakah cukup beberapa kata? Jika beberapa saat yang akan datang sanggup untuk mengubah beberapa sisi dunia.
Istanbul, Turki
Mei, 2009
Sketsa
Dalam tuai kepala dari serabut rafia…
Mengutaskan lesung dalam pipi dengan sedikit tekannan yang kuberi…
Beri telinga agar dia bisa mendengar akan tawa…
Pesanku dalam penunjuk cerita ratu pria…
Celak mata delima alis yang ku rona-ronai arang surga…
Garis bibir menyinggung senyum ceria dari akar khuldi yang kupilihi…
Agar lekuk tubuhnya terjaga…
Keselimuti dengan permadani dan menyarungkan hingga ujung kaki…
Kuluangkan waktu untukku mengukir jentik jemari…
Kemudian kugoreskan sedikit cairan sepi, gemerincing sunyi…
Rambutnya tak kubiarkan tergerai terlihat mata…
Kututupi dengan kudung sutra…
Saatnya aku membuhulkan nafas baru…
Agar dia sanggup berlari, biarnya berlalu…
Saat dia memanggilku sang Prabu…
Sketsa indah itu lahir dalam jasadku…
Malang, Indonesia
2008
Di Balik Simpul Jemari yang Terbagi Lima
Hasta ini membilang jarak dalam median yang terkira..
Di batas gradien yang menyinggung tepian hati…
Mengakari bilangan irrasional yang slalu mendekam di lingkaran nadi…
Membentuk sudut elevasi antara hidup dan ketiadaan…
Dibalik simpul jemari yang terbagi lima…
Dibaginya satu untuk dibagi lagi menjadi tiga kehidupan…
Dibaginya lagi satu kali bagai bilangan fibonacci..
Hingga ditemukannya satu bagian untuk kehidupan dan keabadian…
Lingkaran jerami berdiameter setapak kaki…
Ku letakkan bagian ketiga dari lima simpul jemari yang kupunya…
Membangunkan stewart yang selalu mendalilkan asas segitiga…
Bukan segitiga cinta yang selalu membubuhkan titik berat disetiap lingkupnya…
Namun segitiga kehidupan yang disetiap titik membentuk sudut yang sama…
Untuk saling menopang dan meraba perhatian…
Dibalik simpul jemari yang terbagi lima…
Kusisakan bagian keempat dan kelima…
Ibuku berkata,.”bisakah bagian ini untuk ibumu nak?”
…
…
…
(hanya dalam lamunanku menangis)
Bagian kelima,..
Simpuhkan dirimu dalam kerucut yang mengisi duapertiga tabung kehidupan
Kepada Zat-Nya yang tak terelakan,.
Dan kecewalah akan harga diri yang mendekati limit nol saat perhitunganmu melupakan hadirNya…
Tangerang, Indonesia
2008
Jasadmu Kan Tenang di Sana
Mengiring berita terdengar dari seruan senja malam…
Berpulangnya bintang dalam gelap peraduan…
Mendekap sinar biru yang lelah ia panjarkan…
Hapus gemerlap dengan sendu keharu sentuhan…
Jasad ini yang kau panggil mengenyam ilmu…
Duduk sila mendengar sajak emosi kuantummu…
Pelajari mekanisme dunia yang berputar mengitar…
Dalam dawai yang putus karna resonansi nalar…
Guru, gendering penabuh rimba ilmu..
Dalam nafas yang habis tak akan pernah tulangmu terkikis…
Dalam sesak yang mengikis selalu kau rajut ilmu yang berlapis…
Diantara malamku kan selalu menahtakanmu…
Diantara bintang yang menyimpan sluruh sinar sirnamu…
–representasi diri, guruku, almarhum bapak H Makhfudz Anwari,
yang tenang disana 6 mei 2008–
Malang, Indonesia
7 Mei 2008
Dunia Lain
Disisi lingkar yang terbaring…
Terhisap di seluruh raga dan membeku terpaku…
Menatap kosong ke depan gumpalan kabut…
Menyerap dan berlintas tanpa keteraturan…
Dunia tanpa akhir…
Tak memiliki bintang rasi yang simetris…
Merusak ragaku yang kian rapuh…
Perlahan memutar jatuh dan tak berbentuk…
Mencoba membentuk segumpal awan…
Melayang nyalang meraba pusat keramaian…
Bisik yang lirih,
Menyempit… Menyempit… menyempit…
Saat arti semua kata itu sama…
Saat semua bahasa sudah pasti kau mengerti…
Tak perlu bicara, cukup samudera hasratmu menjawab semua…
Hadir yang melingkupi batas kepribadian dua dunia…
Rasa yang berbeda…
Hanya gunpal daging berdosa, tak dapat tembusnya…
Hanya sehembus raga terbuka gerbang dunia…
Disisi lingkar yang terbangun…
Sakit nan terhisap pun tak sanggup mengucap…
Lelah dan panjang sekali perjalanan dunia ini…
Di saat batas bukan halangan namun sebuah tujuan…
Menitip untuk dikenang, hingga hembusnya memisahkan…
Tangerang. Indonesia
Februari, 2008
-------------
Firdaus "Echizen 21" kini berumur 18 tahun. Gemar menulis puisi sejak SD, namun baru menuangkannya ke media luas saat SMA di blog tempatgila.wordpress.com. sebagian puisi ditulis tahun 2008 dan yg lain ditulis sekarang, saat mengikuti olimpiade internasional di Turki dan juga berencana melanjutkan studi S-1 nya di sana. penulis berkelahiran kota banjarmasin ini juga baru saja merampungkan buku puisinya yang berjudul JINGGA dan menunggu pihak penerbit yang tertarik.
begitulah sekilas tentang saya, seorang pelajar biasa yang masih bocah,. semoga puisi ini bisa ditampilkan di koran kompas dan kompas elektronik di kompas.com,. saya sangat menunggu karna ini akan menjadi penampilan pertama saya di koran dan media karna ini kiriman pertama saya ke koran dan media.
semua puisi tersebut juga dapat dinikmati di blog saya tercinta

