KOMPAS
Rabu, 10 Februari 2010 Selamat Datang  |     |  
YGF Sukses, Masih Mengusung Semangat Bergamelan
Laporan wartawan KOMPAS Lukas Adi Prasetya
Kamis, 30 Juli 2009 | 21:20 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Yogyakarta Gamelan Festival ke-14 (16-18 Juli 2009) berlangsung sukses tanpa sentuhan sang maestro, Sapto Rahardjo. Beberapa pengamat musik melihat YGF masih mengusung semangat bergamelan.

Isi perut YGF akan tergantung banyak pada Ari Wulu, putra almarhum Sapto, dan tim tujuhnya. Tim ini, tiga dari anggota keluarga, dan empat dari orang-orang kepercayaan Sapto.

Memang masih ada bayang-bayang kebesaran Sapto, tetapi proses regenerasi sudah saatnya berjalan. Memang dan harus ada saatnya YGF dipegang orang lain. Kan enggak mungkin dipegang Mbah Sapto terus. Justru saya melihat sekarang tahun ini regenerasi YGF dimulai. Potensi menarik, tetap ada, kata Djaduk Ferianto, musisi.

Beberapa bulan sebelum Sapto meninggal, Djaduk sempat banyak ngobrol dengan sosok itu. "Saya bilang, dalam acara budaya dan seni, seperti YGF, perlu pendanaan. Saya waktu itu usul ke Mbah Sapto, YGF perlu sponsor. Dia memang memahami, sangat malah. Tapi dia selalu bilang, ada atau tak ada sponsor, YGF harus jalan. Gila semangatnya. Tapi memang, event sekelas YGF tetap harus jalan," ujar Djaduk.

Pemerintah mesti melihat potensi YGF untuk menyemarakkan Yogyakarta. Jangan sampai YGF, festival gamelan terbesar di dunia, yang menampung ekspresi bergamelan dari anak-anak sampai musisi nasional dan dunia, ini, kata Djaduk, terhenti karena kekurangan dana.

Djohan Salim, pemerhati gamelan yang juga Asisten Direktur Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, mengemukakan, kekuatan konsep Sapto dalam YGF adalah bisa mendudukkan dalam satu panggung, seniman-seniman serius yang menekuni gamelan, kelompok anak-anak muda yang suka musik dan menyelami gamelan dengan kreativitas sendiri, serta para pelajar yang sedang mulai mengasah keterampilan dan kegemaran bermain gamelan.

Komposisi itulah yang menjadi semangat, kekuatan, dan daya tarik YGF. Saya melihat YGF tahun ini, masih mengusung semangat itu. Namun, YGF berikutnya ya mesti terus ada semangat itu walau kemasan pertunjukan YGF bisa berbeda. "Itu tidak apa-apa. Beda pelaku, kan beda pemikiran. Yang penting YGF harus terus ada," kata Djohan.

YGF, lanjut Djohan, juga harus bisa menarik perhatian kawula muda lebih banyak. Ia menunjuk pada Gamelan Gaul, yang diletakkan di dua hari pertama dari total lima hari penyelenggaraan YGF ke-12. Gamelan Gaul yang menampilkan aneka kreasi bergamelan dari anak muda, seperti gamelan yang berpadu dengan suara knalpot, ternyata menjadi magnet bagi anak-anak muda.

Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.