
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Ujian sesungguhnya bagi Ishari Sahida (30), atau yang akrab disapa Ari Wulu, putra sulung (alm) Sapto Rahardjo, adalah menggarap Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) tahun 2010 mendatang.
YGF 2009 (16-18 Juli lalu) bisa dibilang sukses, salah satu indikatornya adalah banyak penonton. "Namun, itu mungkin saja karena suasana YGF 2009 masih terbalit romantisme mengenang bapak," kata Ari Wulu.
"Ujian sesungguhnya bagi kami dan Komunitas Gayam16 sebagai penyelenggara YGF, adalah YGF 2010. Orang mungkin saja akan berbeda memandang YGF karena sudah tanpa bapak. Yang ada dan tersorot adalah saya, dan bisa jadi penyelenggaraan YGF akan tambah sulit," ujarnya.
Talenta dan ide-ide liar Mbah Sapto—sapaan bagi Sapto—jelas bukanlah tandingan bagi Ari. Karena itulah, kepala utama YGF yang dulu dipegang Sapto, kini harus dijabat oleh tujuh orang. Selain Ari, sang adik dan suaminya, ada empat orang lain yang adalah tangan kanan Mbah Sapto. Merekalah penggerak YGF sekarang.
"Mereka yang biasa bekerja dan percaya dengan bapak, mungkin pada YGF 2010 memandang tidak begitu lagi pada kami. Mau tidak mau, itu konsekuensi sekaligus juga tantangan," katanya.
Bagian yang sulit dalam melanjutkan YGF adalah membaca desain YGF. "Gamelan Everywhere" adalah tema YGF 2009 yang disusun Sapto. Mereka bertujuh menjabarkan apa maksud everywhere itu sebisa mungkin. Dalam urusan pentas, YGF mengundang peserta, mulai dari kalangan profesional hingga pelajar.
Sedangkan untuk luar pentas, mereka menjabarkan tema itu dengan meminta bantuan 16 radio di Yogyakarta, untuk memutar musik gamelan (yang sudah di-mix oleh Ari) lima kali sehari, selama YGF berlangsung. Satu kali putar, durasinya 30 detik. "Yang menjadi tugas kami bertujuh nanti adalah menerjemahkan apa saja isi YGF sesuai grand design YGF. Tema YGF 2010 misalnya adalah why, mengapa gamelan," ujarnya.