Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 09:47 WIB
Pendekatan Pelestarian Budaya, Akademis dan Kreatif
Indira Permanasari S | Kamis, 30 Juli 2009 | 20:05 WIB
|
Share:

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga mengenakan atribut dari beragam etnis di Indonesia, Rabu (17/6), saat pawai dalam rangka Festival Budaya 2009 yang berlangsung pada 17-19 Juni di kampus tersebut.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengembangan kesenian berbasis akar budaya dan tradisi dapat menjadi keunggulan. Jika tidak demikian, Indonesia akan selalu menjadi bayang-bayang bangsa lain, ujar budayawan Ikranegara dalam orasi kebudayaannya di acara Pagelaran Senin Cinta Tanah Air yang diselenggarakan Universitas Mercu Buana, Kamis (30/7).     

Lebih lanjut dia mengatakan, terdapat dua pendekatan yakni pendekatan kreatif dan pendekatan akademis. Dalam pendekatan akademis, kesenian dimainkan seperti apa adanya atau berdasarkan pakem-pakemnya. Tujuannya, untuk melestarikan kebudayaan tersebut.

Sedangkan, dengan pendekatan kreatif, kesenian tersebut terus berkembang, walaupun tetap terlihat akar tradisinya. Wayang misalnya, mengalami perubahan-perubahan. Pengembangan oleh walisongo, misalnya, ikut membuat warna berbeda. Repetoarnya terus bertambah. Ada wayang Pancasila sampai dengan wayang wahyu yang berlatar belakang ke-kristenan. Ada kreativitas yang berkembang, walaupun tetap wayang, ujarnya.       

Keanekaragaman seni tradisi dan pengembangannya dengan menggunakan pendekatan kreatif dapat menjadi kekuatan dan modal yang besar. Pengembangan itu disertai dengan penghargaan dan penghormatan terhadap seni budaya lain.