Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 20:46 WIB
Menjawab Teka-teki Sistem Presidensial
| Kamis, 16 Juli 2009 | 21:25 WIB
|
Share:

istimewa

Judul Buku     : Sistem Presidensial & Sosok Presiden Ideal
Penulis            : Maswadi Rauf dkk
Penerbit           : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan           : 2009
Tebal               : 350  halaman
Peresensi         : Sri Waheni*

Tidak bisa dimungkiri bahwa dalam beberapa dekade terakhir, Indonesia mengalami berbagai kemunduran yang cukup signifikan di berbagai aspek yang ada. Kemunduran yang terjadi ini secara tidak langsung tentunya akan menghambat perkembangan serta kemajuan Indonesia ke depan, terlebih dalam posisi Indonesia yang bisa dikatakan sangat ketinggalan dengan Negara-negara lain sert kesejahteraan dan kemakmuran hanya menjadi ilusi tanpa ada bukti.

Dalam situasi yang sedang melanda Indonesia sekarang ini, sistem presidensial merupakan salah satu pilihan yang tepat untuk diterapkan, meskipun bukan satu-satunya untuk mengembalikan eksistensi Indonesia.

Eksistensi untuk terus selalu maju bersaing dengan Negara-negara lain demi meraih kesejahteraan dan kemakuran bangsa-negara. Hal ini dikarenakan sistem prsidensil ini dinilai mampu mengcaver serta mampu membawa negaranya maju karena mampu menjalankan semua aspirasi dan harapan rakyatnya. Hingga tidak mengherankan jika negara-negara dunia tak terkecuali Indonesia rela membela mati-matian untuk tetap mempertahan sistem presidensial. Dalam hal ini memang system presidensial lebih utama dibandingkan dengan system-sistem pemerintahan yang ada selama ini.

Dibandingkan dengan system kerajaan dan lain sebagainya. Namun demikian, ternyata jika dicermati lebih mendalam, tidak serta merta sistem presidensial ini mendapat tanggapan positif dari seluruh masyarakatnya. Ada sebagian yang mendukung seratus persen, namun ada juga yang mencemooh sistem tersebut, karena dinilai kurang begitu memadai. Oleh karenanya berbagai pertanyaan mulai bermunculan, benarkan sistem presidensial mampu menciptakan perubahan di Indonesia, bagaimana dampak yang diciptakannya serta bagaimana cara untuk menghindari eksis paling buruk yang kemungkinan timbul dari pemerintahan presidensial.

Beragam pertanyaan yang menggelisahkan semacam inilah yang berusaha untuk dibahas dan dijawab dalam buku ini. Buku “Sistem Presidensial & Sosok Presiden Ideal” ini mencoba untuk menggambarkan berbagai aspek baik sisi baik, maupun sisi buruknya sistem presidensial yang dalam beberapa dekade ini banyak di “dewa-dewakan oleh negara-negara dunia tak terkecuali Indonesia. Sistem yang selama ini hanya dikenal sisi positifnya saja, tanpa ada yang mau mengotak-atik atau mencari sisi negatif. Namun demikian, buku ini bukan bertujuan untuk mencari-cari sisi negatif dari sistem presidensial itu sendiri. Akan tetapi lebih dari itu, karena selain berusaha untuk mencari kelemahan, ia juga memberikan solusi untuk mengantisipasi agar kelemahan system ini tidak menjadi problematika yang akan menggerogoti intergrasi bangsa-negara.

Para ahli yang mendalami study perbandingan politik sebenarya juga menyadari berbagai problematika yang melekat dalam system presidensial sebagaimana yang telah dialami serta dipraktekan di Amerika Serikat dan diadopsi di Negara-negara Amerika latin. Stabilitas yang eksekutif yang disebabkan oleh masa jabatan presiden yang bersifat tetap, legitimasi dan mandate presiden yang kuat karena langsung dipilih oleh rakyat, dan pemisahan kekuasaan yang relative tegas dicabang-cabang kekuasaan pemerintah-eksekutif-yudikatif dan legislative adalah tiga di antara kelebihan utama system presindensial. Namun demikian, teryata sistem ini mempunyai kelemahan pokok di dalamnya yakni Pertama kemungkinan kemunculan kelumpuhan atau jalan buntu politik (deadlock) akibat konflik eksekutif-legislatif. Potensi jalan buntu ini semakin besar lagi apabila system presidensial dikombinasikan dengan system
multipartai yang seperti dialami oleh Indonesia.

Kedua kekakuan sistemik yang melekat pada system presidensialisme akibat masa jabatan eksekutif yang bersifat tetap, sehingga tidak ada peluang mengganti presiden di tengah jalan jika kinerjanya tidak memuaskan publik.

Ketiga prinsip “pemegang mengambil semua” yang inhern di dalam system presidensial yang dikominasikan dengan system multipartai yang umumnya menggunakan system dua-putaran pemilihan presiden sehingga memberikan peluang bagi presiden untuk mengklaim pilihan-pilihan kebijakanya atas nama rakyat, dibandingkan dengan lembaga parleen yang didominasi kepentingan partisan dan partai-partai pilitik. (Hal 98).

Problematik sistem presidensil pada umumnya terjadi ketika ia dikombinasikan dengan sistem multipartai, apalagi dengan tingkat fragmentasi dan polarisasi yang relatif tinggi. Presidensialisme dengan sistem multi partai bukan saja hanya merupakan “kombinasi yang
sulit”, melainkan juga membuka peluang terjadinya deadlock dalam relasi eksekutif-legislatif yang kemudian berdampak pada instabilitas demokrasi presidensial.

Selain mengupas berbagai sisi kelemahan system presidensial, di dalamnya juga dibahas masalah kepemimpinan yang ideal bagi bangsa-negara. Pemimpin yang mampu memegang amanah yang diberikan kepadanya. Kepemimpinan yang mampu membebaskan rakyatya dari jurang kesengsaraan yang berlarut-larut. Sebagaimana harapan bersama, pemimpin yang mampu ngemong dan mensejahterakan serta membawa perubahan terhadap masa depan bangsa-negara.

Dengan semakin menjelangnya pilpres yang dilaksanakan di Indonesia, karya ini tentunya merupakan panduan yang komprehensif tentang sistem presidensial, demokrasi dengan beragam partai yang ikut di dalamnya. Paling tidak dengan memahami yang ada di dalamnya minimal kita akan memahami berbagai sisi yang terdapat dalam sistem presidensial itu sendiri.

Hal ini penting mengingat Indonesia akan melakukan hajatan akbar agar tidak terjebak pada kesengsaraan yang berlarut-larut karena salah menentukan pilihan untuk masa depan bangsa-negara.

Penulis adalah peinta buku tinggal di Yogyakarta.