Senin, 21 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Senin, 21 Mei 2012 | 22:53 WIB
Puisi-puisi Endang Nila 'Deru'
| Rabu, 15 Juli 2009 | 23:41 WIB
|
Share:

www.TPGImages

Rentang bias

Ragaku berdiri di atas tanahku, jiwaku mengapung di atas samudraku, hidupku melaju seiring deru nafas bangsaku…
Adakah emosi yang mampu mengulik hatinya? atau telah gersang dan mati rasa, gundul tanpa malu, rata dihantam banjir porak poranda; namun bersunggingan senyum di wajah2 yang seolah2 tulus dan meratap duka atas sekaratnya tubuh bangsaku…

“Mari menari2 di atas mimbar pesta demokrasi!”, teriakmu lantang dalam hitungan waktu yang proporsional.
“Mari, bergegaslah, ini demi kemajuan bangsa kita tercinta!”, teriakmu tak kalah lantang di penghujung ambisimu yang hendak meraja.
“Mari, bangkitkan tubuh tidur dan penyakitan ini!”, teriakmu berkali2 seolah2 kau mengerti apa yang tanah ini inginkan, yang dalam nyata betah melawan arus ambisi-mu.

Adakah tanya yang mampu dijawabnya? Tidakkah selama ini hanya disampirkan di tepi paham intelektual yang kemudian kali luruh di telan badai topeng ke-tidak acuh-an?

Jawablah tanyaku;
Mengertikah kau apa yang ku inginkan?
Pahamkah kau apa yang harus kau lakukan?
Dapatkah kau selami bahasa yang melekat dalam wajah ribuan manusia yang berdiri di atas tanah ini?
Bisakah kau kuburkan nafsu ambisi-mu dalam harap ratusan juta pasang mata yang lelah terpuruk di jalan2 buntu?

Tubuh kami bukan tak bisa menari menghentak gerak di panggung juang, bukan tak ingin bangun dari onggokan pesakitan bumi ini. Tubuh kami bukan tanpa jiwa, jiwa kami bukan tanpa hati;
Tapi kau, punyakah kau ketiganya?

Tanya-jawab

Jika jawab adalah senjatamu
Tanya adalah alatku

Kita coba berembug di pagi remang
Ku keluarkan alatku
Kau acungkan senjatamu
Kita tumpahkan serpih2 bening dari sulingan keringat

Menurutmu apa filosofi dari tanya dan jawab?

Biar filsuf yang rangkai maknanya dalam jalinan kalimat kompleks yang memuaskan nafsu intelektual mereka,
Tapi kita, tidak berdiri untuk bersikap saling bodoh; kau coba meyakinkan dengan mimik polos-mu dan ku coba manggut2 dalam mimik lugu-ku,
Harusnya kita tengadahkan mata pada mentari yang sama,
Namun kau putar makna huruf hingga di senja remang;
Tanpa ku nyana mengapa mentari kita berdiri bertolak belakang…

Apa makna tanyaku dalam jawabmu?

Prinsip?

Mari bergerombol di meja bundar philosophy
Kita diskusi tentang prinsip
Kita undang para filsuf penghuni langit ke 5 yang sering hidup di awan makna
Kita teguk kopi hitam berbuih senyum sekedar meluruh syaraf
Kita bicara perlahan menelan arti bukan kuat suara

Ku hidangkan sepiring makna prinsipku
Kau cicipi, kau melenguh panjang tanpa bicara
Ku hidangkan semangkuk penuh alasan
Kau reguk, kau mengerutkan kening
Ku hidangkan setalam argument
Kau makan, kau meringis tepat di matamu

Mari bicara, kata ku
Kau menatap datar
Mari bicara tentang prinsip, kataku lagi
Kau mengerling dalam cibir
Mari bicara lah, kata ku
Bibirmu bergerak, lidahmu menguntai seurut kata bimbang
“dia perilaku, bukan buah bicara”

Gugur Guru

Kau tau jiwa kami terpaku dalam jeruji; kau pernah diam bersama kami
Kau tau nyawa kami meregang di sudut kelam; kau pernah merasa
Kau tau beribu lapis duka menanti kami meratapinya; kau terlebih dulu meratapinya
Kau tau beribu makna dalam tarian melingkar yang dengan dungu kami perankan; kau bersama kami
Kau tau bahwa kami, perlahan2 mati…
; meski kau berontak dalam bahasamu

Pulanglah dihantar tangis, duka dan lambai tangan yang rela;
Tertanam segala benih harum yang telah kau tabur; kau bahkan lebih dari apapun yang mungkin kau dan kami pikirkan…

Kuletakkan berkali2 di atas bara yang sama

Kemarin sudah, setelah nya kering dan berbekas
Kemarin pun sudah, setelahnya kering dan berbekas
Kemarin nya lagi sudah, setelahnya kering dan berbekas
Kemarin kemarin nya lagi pun sudah, setelahnya kering dan berbekas
Hari ini ada lagi, besok akan kering dan meninggalkan bekas…

Dapatkah katup mata kekal tak tersibak?
Agar tak kulihat lagi esok esok dengan bekas nya…

Aku takut tiba dibatas kertak tulang, mengintip di balik rongga2 busuk…

Apa beda kita?

Terlukis dalam gambar
Tersirat dalam bias warna
Terucap dalam cipratan kuas
Terpatri dalam sketsa

Tak satupun sama

Refleksi hawa

Kuceritakan sebuah refleksi tentang adam dan hawa;
Laki-laki dan perempuan…
Saling membutuhkan
Saling memiliki ketertarikan
Saling mendekat
Saling menyatu dalam perbedaan
Menjadi satu dalam saling.

'Fool-feel'

Ia menggigit luka
Namun menabur aroma
Ia melumpuhkan
Namun menerbangkan
Ia mematahkan
Namun diinginkan

Ia laki2 dan perempuan jiwa eros; dalam rasanya

“sastra adalah dunia seni dimana kejujuran hati dan pikir manusia dirangkai dalam kata2 indah dan penuh makna. Syair adalah lagu terindah yang siap menampung luapan emosi, rasa dan pikir dari pecintanya."

-----------------

Endang Nila ‘Deru’ lahir 03 April 1983, pecinta sastra dan dunia menulis. Lulusan Universitas Negeri Medan Jurusan Pendidikan B. Inggris. Sedang giat-giatnya mencapai progress dalam dunia menulis. Bercita-cita memiliki buku ontology puisi hasil karyanya.