KOMPAS.com — Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) yang diselenggarakan Kamis (16/7) hingga Sabtu (18/7) adalah ujian pertama bagi Ishadi Sahida (30). Ishadi, atau yang akrab disapa Ari Wulu, memikul beban meneruskan penyelenggaraan YGF seperti dilakukan ayahnya, Sapto Rahardjo, seniman kontemporer yang juga penggagas YGF.
Ari adalah putra pertama almarhum Sapto. Akhir Februari lalu, Sapto meninggal karena sakit. Artinya, penyelenggaraan ke-14 tahun ini adalah kali pertama YGF tanpa kawalan Sapto Rahardjo.
"Saya dan teman-teman harus merampungkan grand design YGF yang direntang bapak hingga 2014. Grand design itu membantu arah YGF," kata Ari, Selasa.
YGF adalah ujian pertamanya. Namun, ia tidak mau bahwa esensi YGF tahun ini dan YGF tahun-tahun mendatang hanya sekadar romantisme mengenang Sapto. "Spirit dan kecintaan pada gamelan itulah yang mestinya dituju," papar Ari.
Ari mengaku sangat baru dalam menangani YGF. Dalam 13 YGF sebelumnya, ia merasa tak beda dengan penonton karena hanya menyentuh YGF sedikit. Adiknya, Putri, yang lebih banyak berkecimpung di setiap YGF.
Ari lebih malang melintang di musik elektronik. Namun, pengalaman membuat event sudah dimiliki karena dia memprakarsai Festival Musik Elektronik. Event ini sudah 8 kali dan diadakan pertama tahun 2005. Pengalamannya di sana yang membuatnya optimistis menggawangi YGF.
"Lagi pula, saya tidak sendiri. Di YGF sebelumnya, mendiang bapak punya empat orang tangan kanan, dan bapak-lah yang mengkoordinir. Sekarang, giliranku mengganti bapak. Namun saya sadar, belum bisa menyamai kepemimpinan bapak. Karena itu saya, adik saya dan suaminya masuk bergabung dengan empat orang itu, dan menjadi Tim 7. Tim inilah yang menjalankan YGF, dibantu 64 sukarelawan sebagai panitia," kata Ari.
Akan ada ide dari lebih banyak kepala dalam YGF kali ini, beda dengan YGF lalu yang lebih banyak berpusat pada pemikiran Sapto. Namun, itu bisa dilihat sebagai semakin banyak ide dan gagasan. Kini, semua harus dirembug bersama, dan saya rasa itu baik, paparnya.

