Rabu, 23 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 23 Juli 2014 | 06:21 WIB
Keunikan Reyog Kendang Khas Tulungagung
Penulis: Abdul Lathif | Rabu, 8 Juli 2009 | 17:49 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

KOMPAS/ABDUL LATIF
Reog Ponorogo

KOMPAS.com-Gerak tarian prajurit yang memadu dalam irama musik kendang yang dimainkan oleh enam, dua belas atau delapan belas orang menjadi ciri sekaligus keunikan kesenian Reyog Kendang asal Tulungagung, Jawa Timur.

Irama tetabuhan perkusi gembluk (kendang-red) yang bertalu-talu yang terkadang diselingi dengan suara sompret (terompet-red), itu tak ayal menebarkan nuansa-nuansa rasa musikal yang unik dan khas. Apalagi tatkala Reyog Kendang tersebut dimainkan atraktif oleh penabuh gembluk sembari menari-nari mengikuti alunan irama musik Reyog Kendang.

Kendati gerak tarian Reyog Kendang terkesan sederhana dan tidak rumit, namun tetap menebarkan nuansa-nuansa keindahan sekaligus estetika koreografi yang khas kesenian tradisi dan etnik sebagaimana tarian khas suku Dayak, di Kalimantan.

Kesenian Reyog Kendang yang sampai sekarang ini tumbuh dan berkembang di hampir setiap desa dan kecamatan, ini setidaknya menjadi bagian dari ekspresi berkesenian rakyat Tulungagung. Pasalnya, pemerintah kabupaten telah menjadikan Reyog Kendang ini sebagai ikon sekaligus ke banggaan Tulungagung.

"Sekarang ini tidak kurang ada tiga ratusan kelompok kesenian Reyog Kendang dengan jumlah angganya setiap kelompoknya kurang lebih 45 orang dan bulan Agustus nanti pemerintah kabupaten Tulungagung akan menggelar festival kesenian Reyog Kendang," kata Pembina Komunitas Reyog Kendang Batara Agung Saguru Tulungagung, Didik Handoko.

Ia menambahkan, Komunitas Reyog Kendang Batara Agung Saguru ini adalah wadah seniman tari Reyog dan Jaranan se-Kabupaten Tulungagung. Dan, akhir Juli 2009 nanti akan berangkat ke negeri matahari Jepang dan bulan Agustus 2009 berangkat ke Madrid, Spanyol. Sedangkan, dalam bulan Oktober 2009, Reyog Kendang Batara Agung Saguru ini akan pula tampil dalam perhelatan seni budaya Cross Culture di Surabaya.

"Kami diundang oleh Kedutaan Besar RI di Jepang dan Spanyol untuk tampil di sana dan kami pun sudah menyiapkan atraksi-atraksi jaranan, selain Reyog Kendang," kata Didik.

Sejarah kesenian Reyog Kendang khas daerah penghasil marmer ini tidak lepas dari legenda yang mengisahkan kehendak raja Bugis untuk memboyong sang putri cantik dari Kediri. Sang putri cantik itu, tak lain adalah Kedi (banci/waria-red).

Sang putri pun memberikan syarat-syarat yang harus dipenuhi, jika utusan Raja Bugis itu hendak memboyong dirinya ke kerajaan. Syarat-syarat itu antaranya berupa mata ayam tukung sebesar terbang miring digantung di gubuk penceng. Dendeng tengu sebesar mulut tetelan, madu lanceng sebanyak enam bumbung, serulung batang padi sebesar batang kelapa dan binggel.

"Dari syarat-syarat yang diminta oleh sang puri itu, lalu terciptalah gembluk (kendang), sompret, gongseng, iker-iker, kenong dan gong yang menjadi kesenian tradisi Reyog Kendang," kata sesepuh seniman Reyog Kendang, Suryamiadi.

Alkisah, setelah seluruh persyaratan yang diminta oleh sang putri itu sudah terpenuhi, lalu prajurit asal kerajaan Bugis itupun menyerahkannya dengan tata laku gerak yang akhirnya terciptalah gerak mentokan, gerak tekesan, gerak liling-lilingan, joged tole-tolean, joged nguak sumur dan gerak kejang.

"Kesenian Reyog Kendang yang lahir dari legenda raja Bugis ini sudah turun-temurun dan menjadi kekayaan seni budaya, khususnya masyarakat dan pemerintah kabupaten Tulungagung," kata Suryamiadi.

Suryamiadi mengungkapkan, kesenian Reyog Kendang dalam perkembangannya seringkali mengusung tembang-tembang lagu khas Tulungagung, seperti tembang lagu berjudul Kuto Rowo/Kota Tulungagung , Waduk Wonorejo , Tulungagung Berseri dan Turi-Turi Putih.

"Biasanya, tembang-tembang lagu yang kami bawakan lagu Kuto Rowo yang mengisahkan kota Tulungagung yang asalnya dari rawa-rawa," katanya.      

 

 

 

 

Editor :