Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 08:06 WIB
Sepasang Sepatu Sendiri dalam Hujan Kumpulan Sajak Tiga Penyair
| Selasa, 23 Juni 2009 | 00:47 WIB
|
Share:

Ist
Puisi

oleh cunong n. suraja

Di Pasar Malam sebuah ajang pertemuan para penggemar sastra malam reboan saya menerima sebuah buku kumpulan puisi (dari salah satu penyairnya: Maulana Achmad!) dengan kulit buku yang menawan dengan jelas menyarankan isi buku dengan gambar sepasang sepatu sepasang kuas dengan latar belakang pemandangan yang mengesankan dalam warna dominan hitam putih.

Tiga kumpulan sajak mengingatkan pada  buku puisi zaman normal (kalau tidak mau menyebut zaman penjajahan) “Tiga Menguak Takdir” yang ditulis sastrawan Chairil Anwar, Asrul Sani dan Rivai Apin yang menyarankan usaha membongkar sikap budaya Sutan Takdir Alisyahbana. Menguak di sini dimaksudkan untuk mengkritisi.

Pola judul yang menyaran demikian juga dipakai Nirwan Dewanto pada bukunya “Kepala Lebah Ratu”. Dan kumpulan ketiga penyajak ini dengan judul yang mengelupas seperti foto sepatunya di kulit buku dengan judul “Sepasang Sepatu Sendiri Dalam Hujan” yang merupakan sebagian besar tema ketiga penyair yang dibuka oleh dua penulis puisi TS Pinang dan Hasan Aspahani (penyair yang muncul dengan penuh kekentalan kekerabatan dalam dunia internet. Walau keduanya muncul juga di lembaran sastra koran Kompas Minggu).

Tidak mengejutkan  kalau kedua pengantar itu tidak bicara banyak tentang sajak-sajak ketiga penyair yang susah payah mengumpulkan masing-masing 35 puisi. Mereka berdua malah asyik membicarakan tentang orang lain semisal SCB. Mereka berdua menghindar untuk menyatakan kekuatan dan kelemahan sajak yang terkumpul 35 setiap penyair. Membaca 105 sajak tak selesai dalam semalam tapi mungkin juga terselesaikan sepanjang kita naik kereta api listri Jakarta-Bogor di tengah-tengah desakan para penumpang pekerja penglaju menuju atau kembali dari kota Metropolitan Jakarta. (Saya lebih dari tiga hari membaca 105 sajak secara selayang pandang dan loncat sana loncat sini mencoba menghubungan kesamaan tema)
Dari ketiganya telah tercatat sepatu sebagai tema besar. Tengok saja sajak Maulana Achmad: Kwatrin Sepatu di Luar Mesjid (15) dan sajak Dedy T Riyadi: Pesta Sepatu (88), Sepatru Adam dan Hawa (93), Pertanyaan untuk Iklan Sepatu (98), danSepasang Sepatu yang Tertinggal di Via Dolorosa (99), sedangkan Inez Dikara tidak menyebutkan sepatu dengan lugas tetapi banyak sajaknya berisikan tentang jejak atau perjalanan yang tentunya tidak akan luput dari mengenakan sepasang sepatu selama perjalanannya (apalagi pengembaraannya di negeri Paman Sam yang bermusim empat!)

Hujan sebagai kata netral yang menjadi kata mantra bagi Sapardi Djoko Damono (SDD) tampaknya luput disarikan kekuatan magisnya. Hujan yang menjadi tanda semiotik kehadiran SDD nampaknya sulit dirampok oleh pennyair kemudian. Hal ini juga terlihat pada sajak GM (Goenawan Mohmammad) yang selalu penuh tanda (semiotika) yang lebih rumit dan tidak selugas dan sesederhana pilihan kata Rendra dan Subagio Sastrowardoyo dalam puisi mereka. Ketiganya (MA, IR dan DTR) juga tak segarang SCB maupun Afrizal Malna yang telah membebaskan kata dari makna (kredo SCB) dan membendakan imaji dalam sebagian besar karya-karya AM (baik puisi, cerpen maupun essaynya). Kecuali satu penyair dari Yogya Jokpin yang dengan liar mengumbar celana dan sarung pacar kecilnya dalam telepon genggam!

Hujan juga barang mudah yang berserak dilacak dari ketiga sajak penyair ini. Lihat saja pada sajak Narasi Hujan, Air yang Bertamu MA, 16), Hujan Malam (MA, 19), Embun (MA, 25), dan Inilah Hujan (MA, 37). Sedangkan Inez Dikara mencatat hujan dalam sajak Senja Bersandar di Jendela Kamar (49), Fragmen Senja (70), Elegi (71), Menu Langganan (72) dan Ketika I (75) dalam kata gerimis.  Dalam sajak-sajak Dedy T Riyadi dapat ditenukan kata hujan pada sajak Adakah (83), Saat Langit Menulis Sajak (85), Kamboja (87) dalam kata gerimis, Kepada Embun (91), Menyapih Sepi (97), Ada Bibir Norah jones di Cangkir Kopiku (114 -115) dan pada judul sajak: Sajak di Negeri Hujan. Dari ketiga penyair hanyalah Inez Dikara yang tidak menyisipkan kata hujan dalam judul sajaknya tetapi  Maulana Ahmad dengan royal menempelkan kata hujan pada sajak-sajaknya.

Tentang Mitos Etnis

Ketiganya berasal dari tiga pulau yang berbeda di wilayah negeri Nusantara ini. Tampak dari biodata mereka yang menunjuk tanah kelahirannya (atau hanya sekedar singgah untuk lahir?). Mestinya sebagai penghuni suatu lokal tentunya akrab dengan mitos atau legenda dari wilayah itu, agar menunjukkan warna loka yang diarifi. Justru pada Inez Dikara yang tampak adalah kilatan bayang imaji negeri Paman Sam. Ini terlihat pada penggunaan kata pada judul sajak-sajak: House of Blues, Musim di Kota Angin, Windy City, dan Sogan Village. Yang menarik adalah pengalaman di dalam kereta api dengan tertinggalnya catatan di bangku kereta. Hal ini sangat muskil terjadi kalau kita menggunakan jasa KRL Bogor – Jakarta ataupun Bekasi, Tangerang maupun Serang. KRL Indonesia terlalu pepat dengan penumpang dengan berbagai aroma, pengemis, pedagang asong dan pengamen tentunya mustahil sempat meninggalkan catatan dalam hiruk pikuk dengan berbagai aroma menyeruak begitu. Simak saja itu:
laju kereta sepanjang rel dua kota

kau dan aku pernagh ada di dalamnya
…..
…..
dan kita terbangun dari tidur teramat panjang

(tertinggal di kursi
lembar-lembar diari menunduk
basah dengan airmata)
(56)

Untuk urusan mitos memang hanya Dedy T Riyadi yang menuliskan dalam puisinya walaupun banyak yang mengacu pada kitab suci, bukan keramahan budaya lokal tempat kelhirannya.
Miskinnya mitos lokal yang muncul dalam karya mereka dapat dimahfumi karena mereka sekarang giat bergulat dengan hidup di kota terbesar di Indonesia, sebuah kampung yang ingin jadi megapolitan kalau tidak terpeleset pada kota yang memuat banyak polusi (dalam bahasa Inggris polutant). Karena polusi Ibukota itulah mengikis mistos budaya lokal yang mestinya selalu menempel dengan setia. Tapi jangan kecil hati karena Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Mohammad dan Sapardi Djoko Damono juga tidak meninggalkan jejak mitos bidaya lokalnya, kecuali Sutardji Colzoum Bachri dengan mantra dan kredo puisi membebaskan makna.

Kegagapan Daya Ungkap
Daya ungkap adalah pilihan kata personal dari seorang penyair yang jika diungkap setiapkali akan menjadikan tanda dagang (trade mark) penyair itu. Semisal SDD dengan hujan dan bulan Juni, Rendra dengan ungkapan yang lugas dalam balada-baladanya atau Afrizal Malna dengan dunia benda serta celana dan sarung dari Jokpin.
Ketiga penyair ini belum menemukan daya ungkap pribadi tadi, karena mereka baru mulai saat mereka sign up pada mailng lsit  Bunga Matahari selebihnya mereka mulai merambah belantara internet dengan segala corak marik, hiruk pikuk, haru biru, centang perentang polah penyair yang lebih dulu eksis lewat terbitan koran, majalah ataupun buku antologi bersama.
Banyak harapan kedepan bagi ketiganya asalkan jangan terseret arus daya ungkap personal penyair yang lebih awal dikagumi. Sah-sah saja menjadi pengikut tapi apa salahnya kalu mulai menciptakan diri sebagai lok kereta api atau kepala diesel sehingga akan menyeret sekumpulan gerobak penumpang yang sarat dengan bawaan: p u i s i!

Lebih jauh dengan Maulana Achmad
Maulana Achmad seorang pekerja dalam perusahaan telekomunikasi tidak pelak lagi kalau mempunyai akses ke dalam dunia internet dengan meluncuri jalan puisi. Beberapa group atau mailing list memang menawarkan kebebasan dan menguji keberanian untuk berani tampil. Kata Medy Loekito dalam buku Cyber Graffiti; Polemik Sastra Cyberpunk, 2004 bahwa dunia sastra internet yang sangat mandiri mengkondisikan sastra berkembang pesat, dalam segi pencapaiam pasar dan promosi karya pribadi. Setiap orang bebas berkarya tanpa perlu menanti saat-saat seleksi yang kadang memakan waktu bertahun-tahun. Dan pada detik yang sama, karya itu dipublikasikan di puluhan, bahkan mungkin pada jutaan titik lain, karya tersebut telah dapat dinikmati. Kualitas tidak lagi punya standar. Kualitas tidak perlu harus menunggu lahan koran yang dengan berat hati dikosongkan. Maka tidak heran kalau sekarang ratusan atau boleh dibilang ribuan buku puisi dapat terbit setiap saat dan dengan e-book telah muncul pula beberapa antologi puisi di luar yang dikumpulkan dalam web blog dengan nama blogger, blogspot maupun multiply dan facebook.
Yang perlu dicatat dari pernyataan Medy Loekito tadi adalah tentang kualitas. Tidak ada standar nilai kecuali keberanian tampil untuk dicerca caci maki atau dibiarkan lewat tanpa komentar. Nilai di dunia internet adalah berani malu dan nekad. Tidak salah dan sah-sah untuk berbuat nekad. Karena mau tidak mau alam akan memilih sendiri mana yang emas mana yang loyang, mana biji yang bernas mana biji yang kopong. Proses barangkali yang akan menguji keberanian tampil para penyair internet tersebut. Dan Maulana Achmad lolos untuk makin  berani manapak dengan dicetaknya kumpulan puisinya dalam buku, bukan e-book.
Keberanian itu perlu dikawal dengan dua penulis puisi internet yang sudah menjadi kupu-kupu (jika penerbitan koran dianggap ajang penetasan penyair, tidak lagi majalah sastra Horison satu-satunya yang masih terbit di Nusantara merdeka ini!) yakni TS Pinang dan Hasan Aspahani. Seperti dikatakan sebelumnya keduanya kurang memberi dorongan atau hajaran pada karya Maulana Achmad dan teman-temannya.
Coba dibuka lembar demi lembar bagian yang memuat puisi Maulana Achmad yang hanya menelorkan sebiji puisi panjang yang ternyata tidak menunjukan kemampuan bercerita seperti Rendra dalam puisi balada, protes maupun pamflet. Maulana Achmad memang bukan pencerita, apalagi ditopang dengan pekerjaan yang melayani atau memberi jasa dalam sebuah perusahaan yang notabene dalam dagang bicara panjang tanpa hasil adalah kegagalan. Sajak panjang ini juga gagal membuka wawasan atau cakrawala pembaca tentang sebuah cerita apalagi jika kita berbicara tentang folklore, legenda, mitos dan apapun yang berhubungan dengan akar budaya. Bahkan terkesan pikiran atau kilatan bayang (menurut istilah Subgio Sastrowardoyo dalam menjawab kritikan atas sajak-sajaknya) yang terpenggal (hal ini nampak pada  bait pertama):
mungkin sebelum bulan merapihkan tempat tidurnya


sebatang mahoni membakar getahnya tepat di sisi kami

sebatang mahoni memecahkan bebijiannya di langit


sebatang mahoni kini tak berdaun lagi ketika ratusan langkah menuju pulang
(halaman 22  23
Kalau tidak ditolong oleh pengulangan  “metafora yang belum pernah dibuat orang dari tubuhmu” sajak ini hilang kebermaknaan dan kesatuan tema yang mengucup menjadi inti sasaran imaji penyairnya. Demikian juga dengan beberapa sajak pendeknya yang tidak mirip haiku tapi lebih dekat dengan kekaguman atas sajak Sitor Situmorang Malam Lebaran yang telah dibedah tuntas oleh Prof. Oke dari FIB – UI dengan pedekatan semiotik, padahal sajak itu hanya mengatakan tentang “bulan di atas kuburan”  sehingga segala persoalan tanda menanda di”blejed”i sampai gundul tanpa penutup lagi karena bagaimanapun juga di malam lebaran bulan tidak akan muncul ditambah di tempat sepi dan gelap pekuburan. Padahal peristiwa yang melahirkan sajak itu karena Sitor kecewa menemui seorang teman yang tidak ada di rumahnya dan melewati tembok panjang dan dia mencoba melongok di baliknya ternyata kuburan. Simak sajak berikut;

aku berjalan dengan Ramadhan
kami saling beriringan tapi saling diam
(halaman 6)

Sajak ini mengingatkan sajak SDD (Sapardi) yang berjudul “Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari” yang dikunci dengan baris:

aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa diantara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di anatar kami yang harus berjalan di depan.
(halaman 3)

Kemudian pada sajak pendek berikutnya

ada musuh di intaian masa
“kusambut atay kubunuh?”
(halaman 13)

Sajak ini sungguh gelap apalagi dengan tambahan tanda petik seakan suatu pembicaraan atau sebuah conversation. Padahal judul sajak sudah cukup menyaran tapi pengalaman linguistik penyair dalam memilih kata atau diksi sangat rabun sehingga rindu dapat berdampingan dengan musuh dan masa serta menjadi pilihan untuk disambut atau dibunuh. Sejauh itukah imaji penyair menganggap kesepian dan kerinduan adalah virus yang mesti dimatikan? Pantas saja penyair selalu gagal merunut kilat bayang imajinya dalam keutuhan yang bulat kempal dan legit.

Sajak pendek yang lain adalah

pitam menguncup batu
namun aku tak jua beku
(halaman 31)

secinta-cintanya aku padamu..
kulitku tetap berwajah tanah
(halaman 35)

inilah hujan
peluh nan mawar
(halaman 37)

Ketiga sajak ini telah kehilangan pesonanya seperti halnya sajak pendek sebelumnya, gagal penyair mengikatnya menjadi sebuah biji bernas yang akan mekar dalam penciptaan ulang ketika pembaca menikmatinya. Pembaca dikurung dalam sebuah imaji yang mati dan tanpa pesan yang jelas. Tidak semua kesederhanaan menimbulkan rasa puitik yang utuh. Tampaknya ini yang di Bandung diberi nama sajak jeprut: sajak yang muncul mendadak tanpa kontemplasi yang dalam. Untuk itu di sarankan perlunya penyair berziarah ke tanah kelahirannya untuk merunut jejak mitos atau legenda leluhurnya.

Tertingal satu sajak yang agak menyendiri untuk melupakan sisa tigapuluhan sajak yang lain yakni sajak “Mengurai Kata”. sajak yang mgingatkan sajak Chairil Anwar Beta Patirajawane yang dijaga datuk-datuk … atau sebagian besar sajak SCB semacam

 


“Tragedi Winka & Sihka”

kawin
        kawin
                kawin
                         kawin
                                 kawin
                                         ka
                                    win
                                 ka
                           win
                        ka
                   win
               ka
          win
       ka
        winka
                winka
                        winka
                                sihka
                                       sihka
                                               sihka
                                                      sih
                                                  ka
                                               sih
                                            ka
                                        sih
                                     ka
                                 sih
                              ka
                         sih
                      ka
               sih
                  sih
                    sih
                      sih
                         sih
                            sih
                                ka
                                   Ku
(halaman 25)

Seandainya saja penyair lebih menekuni sajak serupa tak pelak lagi akan muncul SCB jilid dua, lebih lebih jika penyair mampu bermetamorfosa menjadi yang lebih kupu dari kupu-kupu yang lain tentu pamor penyair yang unik dan khas akan muncrat tak terbendung.

 

 
Reference:
Achmad, Maulana, Dikara, Inez, dan Riyadi, Dedy T. 2008. Sepasang Sepatu Sendiri dalam Hujan. Yogyakarta: Carangbook
Bachri, Sutardji Calzoum. 2002. O Amuk Kapak. Jakarta: Yayasan Indonesia
Loekito, Medy. 2004. “Generasi Sastra Instant: Angkatan Sastra Baru atau Modus Eksistensi Alternatif Berselubung Teknologi?” dalam Situmorang, Saut (Editor). 2004. Cyber Graffiti, Polemik Sastra Cyberpunk, Edisi Revisi. Yogyakarta: Penerbit Jendela.
McGlynn, John H., and Kratz, E. U. Eds. 1990. Walking Westward in the Morning,seven contemporary Indonesian poets. Jakarta: The Lontar Foundation