JAKARTA, KOMPAS.com--Kelompok seniman di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (TIM), menyambut gembira atas rencana pemerintah memasukkan seni teater ke dalam kurikulum sekolah.
"Saya yakin dengan masuknya seni teater ke dalam kurikulum sekolah, seni panggung akan semakin dikenal oleh putra-putri kita," kata Rudi, seorang seniman di Taman Ismail Marzuki, di Jakarta Selasa.
Rudi optimis, dengan cara seperti itu generasi yang akan datang akan lebih mencintai dan menghargai budaya sendiri.
"Meskipun rencananya baru dimulai dari Sekolah Menengah Pertama (SMP), tetapi setidaknya seni akan semakin dikenal oleh putra-putri kita, karena selama ini banyak yang tidak mengetahui budaya sendiri," kata seniman angkatan 1975-an itu.
Yose Rizal Manua, pengajar Institut Kesenian Jakarta, yang juga perumus kurikulum seni teater ke dalam kurikulum mengatakan, sungguh tidak adil bangsa yang kaya ini tidak menghargai budayanya sendiri.
Padahal, kesenian/budaya merupakan salah satu dari tiga komponen bangsa Indonesia dikenal oleh bangsa-bangsa lain.
"Tetapi syukurlah mulai tahun 2010 nanti kesenian sudah menjadi salah satu pelajaran sekolah," katanya.
Untuk sekolah dasar, kurikulum yang akan masuk baru pada seni ketrampilan, seni rupa, seni tari dan seni musik.
Sedangkan untuk seni teater akan diberikan kepada siswa-siswi sekolah menengah pertama dan menengah atas.
Dia menambahkan, saat ini tim yang dibentuk oleh pusat pembukuan sedang melakukan perbaikan pada kurikulum seni yang sebelumnya ditemukan beberapa kekurangan.
"Perbaikan yang diharapkan siswa lebih aktif dan kreatif dalam mata pelajaran seni teater ini," ujarnya.
Menurut Yose, salah satu penyebab semakin berkurangnya budipekerti pada anak-anak didik akhir-akhir ini karena kurang mengenal budaya sendiri.
Oleh sebab itu, dengan masuknya seni ke dalam kurukulum sekolah diharapkan mampu "mendongkrak" kembali kecintaan generasi muda terhadap budipekerti dan mencintai budaya sendiri.

