Kamis, 9 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Kamis, 9 Februari 2012 | 03:31 WIB
Puisi-puisi Dicky Christian Senda
| Kamis, 14 Mei 2009 | 21:31 WIB
|
Share:

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO
Pengguna jalan melintas di depan toko-toko yang tutup di Jalan KH Hasyim Asyari, Karang Tengah, Tangerang, saat listrik padam, Selasa (15/7) pukul 22.00. Pemadaman listrik yang terjadi mulai pukul 16.00 itu adalah dampak dari krisis listrik yang melanda negeri ini akhir-akhir ini.

Cinta Leo untuk Marga

Marga, aku cinta nafasmu
laut pagi yang menjauh pantai,
tinggalkan ikanikan kecil meronta. tinggalkan  sepi.

***

Leo, aku tidak mencintaimu
aku mencintai keleluasaanmu
burung putih leher panjang yang mengitari benua saban musim
utara ke selatan
timur laut lantas singgah ke barat daya

                            ***

Marga, aku mencintaimu dengan keleluasaanku
berharap aku bisa mampir sebentar ke pantai sepimu
berharap bisa menghirupmu sepenuh mungkin

aku hanya ingin merenggutmu
memenuhi rongga dadaku
lalu membawamu terbang jauh ke kotakota
yang bersahaja. tidak hanya menunggu sepi disini

                 ***

Leo, aku mencintai keleluasaamu
hanya saja aku hidup memang tidak untuk keleluasaan
aku ada hanya untuk diam sepanjang masa

aku mencintai keleluasaanmu. mampirlah
saat musim tropis memanggilmu terbang lagi
aku bersedia kau menghirupku penuh
hanya itu. karena surya akan memanggil gelombang pulang
ke pantai
aku hanya akan terasa asin dan amis disela buih putih

Leo, cinta tak harus memiliki kan?


Bumijo Lor, April 2009

_____________________________

Tulisan buat Marga yang dilingkari Leo

sepuluh katakata bijak
menempel disudut jalanan sepi

sepuluh pesan kematian
mejulurkan lidah berbisa bagi kehidupan
yang lewat.

ada disela jalanan yang sama

tawamu tak layu, aku pun berani
kita akan menuai kebijakan
kita akan memenggal kematian

kita ada di jalanan itu sepanjang sore
dan aku sempat mencintai punggung kerasmu

kau hanya diam, yang kubaca sebagai ‘aku juga.
aku cinta parasmu yang menguning di saat senja’

sejenak nafasmu memburu
disela jemariku
lima menit saja kita melayang.
aku pingsan dan kita tak jadi membunuh kematian

kita bahkan hanya sempat membunuh waktu
dengan warnawarna
cinta yang salah

Bumijo Lor, April 2009

_____________

dia, aku dan keengganan

dia adalah cahaya pagi yang terjatuh di atas pucukpucuk hijau
berdarah karena malam gelap enggan menyelimutinya
dia adalah angin pagi yang menyusuri bukit, memutar

menyapa rerumputan tanpa lelah, karena tanah enggan menyampaikan
bau rerumputan pada isi dunia.

dia adalah pelangi yang cepat pergi karena serpihan hujan bercampur keping caya matahari selalu terburuburu

dia sama sepertiku, bimbang dalam pijakan yang tak pasti
malam yang enggan padaku, tanah yang juga enggan padaku
hujan dan matahari yang juga enggan padaku

aku adalah dia yang bimbang
aku adalah sang pemimpi yang tak lelah mengais katakata lantas menyusunya menjadi
bahasa pribadi dan orangorang menertawakan atau menggelengkan kepala

karena keanehanku ini. aku tetaplah sang pelamun yang saban hari menyelam dalam duniaku
dunia imajinasi. dunia tulisan. dunia dengan sejuta bukubuku lusuh

aku adalah dia, alam yang bernas tetapi selalu dianggap sebelah mata.
aku adalah dia yang berdiam diantara sejuta keengganan orangorang kekasihku

aku, dia dan alam sedang terlibat dalam kumparan keengganan hati mereka

ketika aku menulis ini, aku adalah si gila perangkai kata, si pemimpi pagi buta
aku nampa seperti itu?

aku hanya mampu menggila ketika aku sedang birahi, ketika aku sedang kalut
aku bahkan hanya bisa menulis ketika aku adalah bukan aku yang mereka kenal!
aku bahkan hanya tersusun atas lidilidi imajinasi darah ayah-ibuku
maafkan aku. tertawakan saja aku jika kau mau

Bumijo Lor, April 2009

______________

Rindu

: buat hujan dan matari, buat pagi dan senja, buat senyum dan uban, bapatua dan  mamatuaku...

sepi kini hampir memenjarakan mata
lelah kini sedang menarik ulur kantuk
merebah adalah menggeser kepala sembilan puluh derajat
dan membiarkan aliran darah menterjemahkan misteri yang
hampir kurasakan setiap harinya

‘rindumu aneh..’. seperti bisikan

aku kadang tibatiba mencium bau tanah halaman rumahku
hingga bau kamar ayah-ibuku. (mencium omelan ibu karena ulah
Doggy anjing kesayanganku)

‘rindumu aneh…’. seperti bisikan

malam kadang hanya bak sebuah buku yang seluruh halamannya
berisikan kata yang
sama, ‘kau rindu? rindumu aneh…’
diselanya ada potongan gambar kenangan, membiarkan sedikit
waktu buat terjemahan lantas pergi
dan aku selalu adalah hampa yang abadi
tanpa suara

‘rindumu aneh…’. hanya tertulis kini.

pergilah tidur dan jatuh dalam mimpi yang kusiapkan. siapa tahu
esok kau benarbenar sedang dipeluk bau ayah-ibumu
diketiak mereka, jujur saja

‘rindumu tak lagi aneh..’.

kali ini dengan tulisan dan bisikan
penuh. sepenuh hujan yang tumpah saat rindumu sudah berat
kau bahkan masih ingat saat terakhir kau tidur dengan sederhana mereka!

Bumijo Lor, 26 April 2009

_____________________________

senandung dibawah hujan yang hijau

:untuk theresia avilla

aku menjemputmu saat hujan
dibawah pinus yang beku kau memintaku
menerbangkan rasa percayaku. dan pengorbanan
agar meleleh
bersama tetesan air. hijau. cinta.
kau memintaku terbang
bersama cintamu dibawah hujan sore
kita basah. kita sama. kita rasa
kita adalah angin yang mendesir sepi.
kita terbang lagi menembus sayapsayap hijau
terbang sampai kususupi gelisahmu (aku bahkan
mencuri sejengkal
cinta dipersembunyiannya! kau tahu tapi kau biarkan itu.
(ahh, kau mencintai aku kan?)
kita sudah di lapisan teratas rindu. aku bahkan selalu
melumat bibirmu setiap detik
tanpa ragu. tiada sesal.
merasakan adanya kau disisi tanpa selembar mimpi pun.
itu adanya kita.
membuat aku mabuk lantas seutuhnya menyerap
cintamu.
dari harummu.
kita masih betah dibawah rinai hujan yang hijau
kita masih basah. kita sama. kita cinta.
aku ada disela kabut yang membuatmu lebih hijau.
kau indah di hatiku

Bumijo Lor, April 2009

______________

Pada Sebuah Jalan

aku membentangkan setangkai palem di jalanMu. sebab langkahMu

adalah ruh yang selalu ingin kuhirup. tentang meleburnya daundaun hijau

jadi rahmat abadi, yang membuat aku bertanya, apa Kau rajaku? hari ini Kau

jadi keabadian, sedangkan aku masih bayangan yang mencoba

menjadi nyata. nyata jalanMu adalah debu tanah yang

mengandung sejumlah partikel cinta kasih. kadang aku memang

menginginkan tubuhku dilumuri partikelpartikel itu


Bumijo Lor, April 2009

____________________

Dicky Christian Senda, dibesarkan di Mollo Utara, daerah perbukitan di Timor Tengah Selatan, NTT, 22 Desember 1986. Menamatkan SMA di Syuradikara Ende - Flores. Kini sedang menyelesaikan studi psikologi di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Aktif menulis sejak di bangku SLTP. Kini terus aktif menulis puisi dan mengikuti diskusi sastra. Berharap suatu saat bisa menerbitkan buku kumpulan puisinya sendiri. Semoga.