KOMPAS
Sabtu, 13 Maret 2010 Selamat Datang  |     |  
"....41516..."
Kamis, 7 Mei 2009 | 01:44 WIB
Kompas/Andy Riza Hidayat
Rumah adat di Desa Jangga Dolok, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, ini bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Cerpen Deru
(1998-1999)

Ku panggil dia Tulang akhirnya, pada awalnya ku panggil Ito, sebutan sopan antar lawan jenis yang belum saling kenal dekat dalam suku Batak Toba. Dia keberatan, “panggil abang saja”, kata nya. Tapi aku lebih keberatan lagi kalau harus panggil dia abang, soalnya dia itu bukan siapa-siapa ku, gengsi panggil abang ‘siapa kali dia rupanya ku panggil abang’ pikirku saat itu. Gengsi lah pokok nya. Kemudian aku usulkan untuk aku panggil Tulang saja, dia mengangguk setuju. Sekalian, sebutan itu mengingatkan aku akan tubuhnya yang tinggi kurus, bagai tulang belulang hidup berjalan.
Namanya Frans. Bukan nama sebenarnya. Mungkin dia merasa nama aslinya ‘Tambok’ agak kurang ‘booming’ atau sulit diajak ‘mengglobal’ atau mungkin terlalu menunjukkan identitas Batak nya, whatever…. Yang pasti nama itu agak aneh di telinga ku, walau aku memahami, sebagaimana lazim nya orang Batak, pasti menyelipkan makna di balik nama itu. Di suatu kesempatan, ku beranikan diri bertanya apa makna nya “suatu saat, jika sudah waktunya, kau memang harus tau makna nama itu. Ini menyangkut hal diri dan keluarga ku…” jawab nya ketika itu. Namun aku tidak akan pernah tau apa makna di balik nama itu. Karena aku memutuskan untuk tidak menjadi seseorang yang perlu untuk mengetahui nya. Ku pilih, dengan tidak sengaja, menjadi bukan ‘seseorang’ yang harus tau tentang dia dan keluarga nya.
Kami bertemu bukan dalam pertemuan kami. Aku dan dia ada dalam moment penting pertemuan sepasang laki-laki dan perempuan, temanku dan temannya, yang di sengaja, ujung dari usaha-usaha usil dari anak-anak SMA yang sering tidak sengaja bilang “cowok-cowok…godain kita dong…”, berawal dari usaha usil yang tidak serius tapi akhirnya terjadi. Dalam moment itu kami ada sebagai bingkai yang melengkapi kejadian dan peristiwa dari sepasang manusia yang lain. Dalam moment itu juga lah akhirnya lahir kesepakatan panggilan Tulang dan Bere antara aku dan dia. Setelah kejadian itu, suatu rangkaian kejadian persitiwa antara Tulang dan Bere terjadi, tanpa ku sadari, ada rasa lain yang terselip dalam hatinya, yang kelak ku anggap sebagai penghianatan atas anggapan-polos ku bahwa kami sungguh-sungguh Tulang dan Bere.
Aku masih 15 waktu itu. Seorang gadis polos dari kampung nun jauh di sana dengan jarak 5 atau 6 jam perjalanan dari kota itu (Medan). Seorang gadis yang mencoba beradaptasi dengan kehidupan di kota sambil dengan kukuh berjuang untuk tetap menjadi seorang gadis harapan orangtua, datang-sekolah-belajar-menghasilkan nilai bagus dan lulus dengan nilai bagus, hanya itu. Seorang gadis yang berpikir polos, yang dalam pikiran nya berkecamuk kejahatan-kejahatn di kota besar yang sering nampang di TV dan tercetak di Koran. Seorang gadis yang sangat hati-hati kadang-kadang katro’ kata orang. Sementara, Tulang, dengan rambut gondrong sebahu, adalah seorang mahasiswa tingkat 2 universitas swasta yang bangga dengan aktivitas sebagai mahasiswa; bangun siang, bergegas dengan motornya menuju kampus, sibuk dengan aktivitas ‘kongkow-kongkow’ bareng teman satu ‘geng’, bangga dengan ‘persahabatan’ yang demikian, dan setiap sore berkunjung ke kost ku…
Aku kenal suara motornya. Masih di mulut jalan gang itu pun, suaranya sudah kedengaran meraung-raung. Spontan aku selalu berlari keluar dan sekedar tersenyum (ketika itu aku kurang menyadari kalau senyumku ternyata begitu manis), dan dia berhenti sebentar sekedar bilang “nggak usah siapin makan malam ya” seolah-olah aku ini siapanya. Atau “lagi ngapain?” atau “mandi dulu” sambil memberi isyarat pulang dulu dengan menunjuk rumah Oppungnya, tempat dia tinggal. Berjarak 10 rumah dan melewati satu jembatan sungai kecil dari kostku. Kemudian dia pergi, aku segera masuk ke rumah, beres-beres dan kembali ke depan, duduk-duduk di teras toko ibu kostku. Sebentar lagi dia pasti datang. Tak lama dia datang dengan motor nya. Hampir begitu setiap hari. Pernah suatu kali, dengan bercanda dia bilang “kau mirip si blacky kami, setiap dengar suara motorku, pasti lari-lari manyambut aku”, dengan polos aku bertanya “blacky itu siapa nya Tulang?”, dengan tawa yang hampir meledak dia menjawab “ya ampun…Blacky itu nama anjing…” dan aku marah. Sampai beberapa hari aku memutuskan tidak perduli dengan dia walau setiap hari dia masih tetap datang dan bertanya “masih marah?” dengan cuek ku jawab “ia, aku masih marah”. Tidak tau bagaimana cara nya, semua terjadi begitu saja seiring waktu berjalan, kami baikan lagi. Ketika datang ke kost, orang pertama yang di sapa nya adalah si Mbak, ibu kost ku yang masih gadis. Dan kadang aku hanya akan duduk diam, mendengar dan tertawa mendengar pembicaraan mereka berdua. Aku menyukai suasana itu. Jika Mbak sibuk melayani pembeli, pembicaraan akan kami ambil alih, hampir lebih banyak di isi dengan lelucon nya dan kami banyak tertawa. Dan yah…aku baru menyadari bahwa aku begitu manja di depannya. Namun aku tetap bersikap sebagai seorang gadis yang tidak bisa terlibat lebih dari itu.
Sering kali dia mengajak aku keluar namun dengan ketakutan aku jawab “nggak mau!”. “kau takut kubawa lari ya?” tanya nya sambil tertawa mengejek. Terang saja aku nggak mau jujur bilang aku takut. Ku jawab ketika itu aku trauma naik motor, pernah jatuh. “ya udah kita naik angkot”, ku jawab “lagi males”. “kalau jalan kaki?”, “Capek,” jawab ku. Dan setelah dia diam, dalam hati aku bilang ‘syuku…rrr’. sering juga dia mengajak aku menemani nya ke pesta ultah temannya, atau pesta pernikahan atau acara-acara lainnya. Tapi aku tidak pernah mau. Pernah dengan ancaman, “kalau kau nggak mau pergi aku nggak kan pergi” akhirnya memang dia tidak mau pergi dan kami lanjut berbincang-bincang tentang apa saja dengan pakaian rapi nya. Pernah akhirnya dia bicara ke ibu kost ku untuk mengajak aku pergi nonton konser band di kampusnya. Dari sana awal dari penghianatan itu kurasakan dan aku bersembunyi…
“Dia sebenar nya mau ngajak kau nonton,” kata si Mbak setelah Tulang pergi.
“Kenapa bukan mbak aja yang pergi? Aku kurang suka nonton gituan, terlalu rame,” jawab ku.
“Gila kau…dia mau pergi sama kau.”
“Kenapa harus dengan ku? Apa bedanya? Mbak juga teman nya kan?” jawab ku ngotot.
“Lho…jadi kau nggak ngerti? Eee…bodoh nya anak satu ini. Jadi kau pikir selama ini dia datang kemari ngunjungi kau untuk apa?” aku terdiam  karena nggak tau mau jawab apa. Ia juga ya, untuk apa dia datang?
“dia tuh cinta sama kau inang...!” kemudian aku terdiam, terbodoh-bodoh mencoba mencerna makna kata-kata si mbak. Sambil memikirkan, menimbang dan akhirnya memutuskan… apa ia ya? Spontan semua kilas balik kisah ku dengan dia yang sudah hampir setahun berkelebat di alam pikirku. Apakah semua sikap itu pertanda dia cinta dan mengingin kan aku lebih dari apa yang ku pikir kan? Sebegitu kah? Astagaaaa…..!!! aku benar-benar marah dan merenung seperti orang bodoh berhari-hari. Sampai akhir nya aku tiba pada kesimpulan bahwa dia itu jahat telah menginginkan sesuatu dari aku. Dan aku tidak mau bertemu dengan dia lagi semenjak itu. Ill-feel jika mengingat dia. Ada guilty jika mengingat semua perjalanan pertemanan kami yang sudah hampir setahun. Dan pada suatu kesempatan aku akhirnya pindah dari kost itu. Mbak akan buka toko baru di tempat lain dan rumah itu akan direnovasi total. Dan aku adalah anak kost generasi terakhir ketika itu. Semua kakak-kakak kelasku sudah lulus dan telah pindah dari tempat itu. Ibu kostku membantu untuk menemukan kost baru untuk ku. Tidak jauh, hanya berjarak dua jalan parallel jauh nya. Aku pindah tanpa sepengetahuan Tulang, aku berharap bisa benar-benar menghilang dari pandangannya. Tapi nggak bisa. Menemukan ku adalah hal gampang bagi dia. Dia tinggal menguntit aku sepulang sekolah menuju ke mana. Dan pada suatu hari, dia akhirnya datang ke kostku yang baru. Begitu ku buka pintu, tanpa basa-basi, meluncur lah kalimat yang tidak akan pernah ku lupakan sepanjang hidupku, kalimat yang menggelikan namun mungkin menyakitkan bagi dia,
“kalau Tulang mau ketemu aku, tunggu dua tahun lagi!!! (bammm…!!!)” diiringi suara pintu yang ku banting dengan keras di depan hidungnya. Setelah beberapa tahun kemudian, aku baru bisa bilang “o my goodness…what a mess” jika ingat kejadian itu. Sampai beberapa waktu lama nya, aku masih bisa melihat dia dari jauh, nongkrong di ujung jalan, duduk di atas motor nya dengan topi dikenakan di lututnya. Aku akan segera membelok cari jalan lain. Dia mungkin sadari itu, dan pernah beberapa kali mencoba hendak menyapa ku tapi di urung kan nya. Dan lama-lama, ku sadari, dia benar-benar hilang. Tidak pernah lagi kutemukan. Aku merindukannya, aku menyesal dan aku sering berdoa supaya dia kembali dan memaafkan aku.
2001
Akhirnya aku kelas 3, 2 tahun setelahnya, entah bagaimana caranya, kami bertemu kembali. Dengan segala daya yang ku miliki, kucoba untuk kembali seperti dulu. Gadis kecil-nya yang polos dan manja dan tidak berprasangka apa-apa. Ketika itu aku masih berharap bahwa dia kembali seperti dulu, seperti apa yang kupikirkan dulu, bahwa kami ada hanya sebagai Tulang dan Bere, tidak lebih. Walau demikian, ku coba untuk berpikir dengan cara ‘orang dewasa’ nya remaja. Aku mencoba meneliti hatiku. Mencari-cari rasaku. Apakah benar-benar aku tidak menginginkan dia lebih dari sekedar teman? Aku takut kelak jika aku menyesal karena telah menyia-nyiakan cintanya. Tapi aku masih tetap takut dan masih seperti yang dulu, tidak mau jika di ajak pergi ke acara-acara teman-temannya dan masih sama, akhirnya dia juga tidak pergi. Tapi suatu kali, ku putuskan untuk ikut ketika dia mengajak ku pergi ke pantai bersama teman-teman nya dalam rangka pembubaran kepanitiaan suatu acara. Dia salah satu anggota panitia.
“Kau harus ikut, udah ku daftarkan.”
“Jangan lah Tulang, nggak mau aku…”  ku tolak tanpa mengajukan alasan, karena aku pun tidak punya alasan dan aku memutuskan untuk bersikap lebih dewasa sedikit kali ini.
“Aku udah daftar nama kita, Begu dan Begi…” dia di panggil Begu (hantu) oleh teman-temannya karena rambut nya yang gondrong melewati bahu, lebat, trus cantik pula. Aku benar-benar kalah. Berlawanan dengan style rambut ku yang sering di cepak sembarang, atau paling tidak menutup telinga sedikit.
Di pantai…
Akhirnya kami punya kesempatan bicara berdua setelah prosesi mop-mop-an para pasangan yang di bawa, tidak terkecuali aku. Setiap kami di kejar, diseret dan tenggelamkan di pantai. Kata mereka itu cara perkenalan.
“aku di kampung setahun ini”
“pantes nggak keliatan. Nggak kuliah?”
“Di-D.O.”
“Kenapa?”
“Kurang perhatian,” dan nggak salah lagi, aku jadi salah satu oknum yang dipersalahkan telah tidak memperhatikan dia.
“Kapan masuk lagi?”
“Semester depan, itu pun kalau aku masih belum bisa cari uang. Kalau udah bisa, aku nggak akan lanjut lagi. Apa kabar mu selama ini?”
“Nggak ada yang perlu diceritakan.” jawab ku datar.
“Aku udah pacaran sekali.” jawab nya jujur sambil memandang ku lama. Aku balik memandangnya tanpa ekspresi apa-apa.
“Tapi udah putus” lanjutnya. ‘dia masih yang dulu’ gumam ku dalam hati. Selalu membukakan siapa dia.
“Kenapa?” tanya ku.
“Cuma sebentar, aku nggak merasakan apa-apa.”
Kami lebih lama diam. Kadang berjalan menelusuri pantai mencari kerang-kerang pantai yang masih layak dijadikan hiasan. Kadang duduk bercerita tentang sesuatu. Dan akhirnya kami kembali ke inti masalah nya…
“aku mau bilang sesuatu” (seerrrr…) tiba-tiba aku merasa darah ku memanas. ‘Please…jangan bilang apa-apa tentang cinta, aku nggak mau dengar’ doa ku dalam hati.
“Tentang apa?”
“Tentang kita.”
“Kenapa dengan kita?” tanya ku pura-pura bodoh sambil terus mengucap ‘don’t say anything please…’
“Jadi kau nggak ngerti juga?”
“Ngerti apaan?”
“Ya ampun…IQ mu jongkok juga ya. Masak kejadian udah lama gini, belum ngerti juga”
“Emang nggak ngerti. Jadi bagaimana dong?”
“Mmm…gini…mana kau pilih, dibilang langsung atau pake surat” Aha…! Teriakku dalam hati, ada peluang untuk tidak mendengar apa-apa. ‘kalau mau bilang cinta, dua-dua nya juga nggak sih’ jawab ku dalam hati, geli soal nya bicara tentang cinta. ‘Mamiii…aku masih anak-anak, aku masih mau sekolah’ teriak ku dalam hati…
“Baca surat kayak nya lebih enak”
“Ya udahlah aku akan nyatakan lewat surat. Tapi ku harap kau udah ngerti kita sedang bicara apa” dan hari itu berlalu dengan sukses. Satu lagi. Dia beritahu nomor telpon di kampung dengan cara yang gampang di ingat, hingga sampai sekarang pun, aku tetap ingat.
“Menunggu sampai semester depan, aku akan tinggal di kampung, bantu-bantu ortu. Menebus dosa-dosa ku” kata nya sambil tertawa dengan mimik wajah penuh rasa bersalah.
“Aku akan sering telpon kau. Kau juga kalau mau, telpon aku ya. Gampang mengingat nomor nya. Misalkan di kelas 4 kau dapat juara 1 trus naik ke kelas 5, nah di kelas 5 juga kau dapat juara satu trus naik ke kelas 6. 41516, tinggal ingat kode daerah nya aja. Gampang kan?”
Saat itu, aku benar-benar memikirkan, merenungkan dalam-dalam dan mempertimbangkan perihal ini. Aku sungguh-sungguh nggak mau menyesal di kemudian hari. Aku takut aku sedang nggak ngerti perasaanku. Di sisi lain, aku juga ingin pacaran seperti beberapa teman ku, yang kelihatannya mereka bahagia dengan status itu. Tapi kok rasanya geli ya? Aneh gitu, dan ah…aku benar-benar takut menghadapi nya. Kemudian tibalah pada saat yang mengenaskan itu…
Kejadian beruntun menjelang hari ultah ku, tanggal 3 di salah satu bulan. Tanggal 1 dia sudah mulai mengungkit perihal perayaan nya yang ku tanggapi biasa saja.
“Aku pasti ke sana”
“Ngapain?”
“Kita raya kan ultah mu”
“Nggak perlu, nggak biasa di raya-raya in gitu. Nggak usah di buat jadi istimewa gitu lah”
“Nggak! aku harus datang. Setidaknya kita rayakan berdua” ‘Whattt…!!!??? Berdua??!! Omaaak…nggak mau aku…’ teriakku dalam hati.
“nggak usah Tulang… ultah itu nggak ada istimewa nya buat ku. Sayang Tulang datang jauh-jauh, oke?”
Malam nya dia nelpon lagi. Tanggal 2 juga masih nelpon dan aku mulai merasa muak. Aku nggak ingin ketemu dan aku nggak mau apa-apa. Ku putuskan untuk nggak jawab telpon nya dengan alasan aku pulang ke kampung. Akhir nya ku terima kado nya  tanggal 7 di sekolah dengan sepucuk surat (Kado ultah yang terakhir diberikannya masih ku simpan sampai sekarang). Dan ahh…tanpa berpikir panjang, ku balas secepat mungkin dengan segala kesal dan rasa muak yang ada dalam hatiku, kutulisakn di balik surat yang dia kirim untukku, ku kembalikan dengan amplop yang sama. Ini adalah ‘o my goodness…what a mess’ yang berikutnya dari antara begitu banyak ‘o my goodness…what a mess’ lainnya yang telah ku lakukan pada nya. Semua berakhir disitu. Walau masih pernah bertemu beberapa kali dan dia masih pernah nelpon ke kost yang terakhir (tapi ketika itu aku sudah tidak tinggal di sana).
Well…perasaan bersalah itu masih tetap ada sampai sekarang. Aku sangat menyayangi dia namun bukan sayang seperti yang diharapkannya. Aku menyesal kenapa nggak punya cara yang lebih baik untuk mengungkapkannya ketika itu. Setiap tahun, beberapa kali, aku coba dial ke nomor itu….41516…
“Tambok nya ada?”
“Dia udah di Jakarta”
“Boleh tau alamat nya?”
“Kami juga belum tau dia dimana di Jakarta” Begitu setiap kali aku nelpon. Dan akhir nya aku berhenti mencoba beberapa tahun yang lalu.
Masih banyak kisah yang tidak tertuang dalam cerita ini yang akan selalu ku ingat karna sesungguh nya dia menjadikan aku perempuan tercantik di dunia, melalui itu, aku pernah merasakan cinta sesungguhnya dari seorang pecinta sejati.

Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.