Judul Buku : Perasaan-Perasaan yang Menyusun Sendiri Petualangannya
Pengarang : Gunawan Maryanto
Penerbit : omahsore (www.omahsore.web.id)
Cetakan : Pertama, Desember 2008
Halaman : x+67 hlm, 12,2 x 18 cm
No. ISBN : 978791904704
================================================
Pertama kali selesai membaca sajak-sajak Gunawan Maryanto yang akrab dipanggil Cindhil ini, yang terpikirkan oleh saya adalah betapa pandai dia menarik ulur perasaannya terhadap setiap peristiwa. Peristiwa atau kenyataan hidup sehari-hari, dalam ranah semangat puitika, menurut Sakutaro adalah hal-hal yang harus berada di bawah puisi itu sendiri – dalam esensi puisi romantis – atau dikritisi oleh puisi itu – dalam esensi pedagogis. Namun yang saya amati dalam puisi-puisi Gunawan Maryanto ini, ada semacam sifat untuk menerima kenyataan tetapi juga tidak begitu saja prosesnya sekaligus tidak juga menafikannya.
kita telah melintasinya
mereka telah melintasi kita
tak ada beda : mereka telah tak ada
cinta jadi sia-sia
(Kolam Ikan dan Beranda Kosong)
Tapi benarkah segala yang terjadi itu sia-sia? Bukankah dalam semangat puitika ada juga hal-hal yang bisa dibangun oleh puisi? Seperti esensi metafisis puisi yang mengangankan dunia yang transcendental, esensi estetis puisi yang meninggikan sebuah keindahan, atau bahkan esensial jiwa dari puisi yang mementingkan kebangunan jiwa yang tertinggi sebagaimana ditulis oleh Sakutaro itu. Bisa jadi yang membuat Gunawan Maryanto menuliskan puisinya adalah hanya cara dia memandang kenyataan itu semua dengan cara dia – cara yang hanya dia yang bisa menjelaskan.
dan seperti musim-musim sebelumnya
aku melihatnya dari jendela – dengan cara yang sama
(Lelaki yang Melintas di Sela Hujan)
Tentunya sebagai pembaca, saya sangat terganggu dengan statemen seperti itu. Statemen yang terkesan menyembunyikan cara pandang seorang penyair terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi. Tapi mungkin seorang Gunawan Maryanto lewat bukunya ini memang seperti seorang teman yang mengajak duduk di beranda rumah pada suatu saat hanya untuk melihat orang lalu-lalang, mobil yang bergesa, pohon yang diguncang musim dedaunannya, dan lain-lain.
buat apa menduga jika terbaca
buat apa mencari jika tak ada lagi
(Perempuan Berambut Jerami)
Lalu ada apa di sana? Apa yang sebenarnya ingin ditawarkan oleh Gunawan Maryanto? Kita sendiri yang harus bisa mengambilnya. Harus bisa menentukan apa keinginan kita. Mengapa? Karena Gunawan Maryanto memang tidak sedang menginginkan ada semacam usikan terhadap apa yang disebutnya sebagai peristiwa atau kenyataan.
Kuputuskan menjauh
Kauputuskan menjauh
Supaya tak ada yang celaka
tak ada yang terluka
Dan seluruh peristiwa
baik-baik saja – sepertinya
(Perkara Lama)
Apakah benar begitu? Gunawan Maryanto menghadirkan buku ini bukan untuk menghadirkan cara pandangnya melainkan menginginkan pembacanya kemudian punya cara pandang sendiri terhadap peristiwanya sendiri, terhadap kenyataannya sendiri? Tampaknya memang begitu.
ada yang ingin terus berlanjut
seperti luka di kepalamu
yang selalu hadir
dengan garukan tanganmu
seperti jalan setapak
yang membelah kepalamu
dengan putus asa
(Perasaan-Perasaan yang Menyusun Petualangannya Sendiri)
Tapi ternyata itu tidak seluruhnya benar, karena ternyata peristiwa – sebagaimanapun dia memberi jarak – masih tetap sebagai latar belakang tertulisnya satu puisi bagi penyairnya. Gunawan Maryanto tidak mencoba berkelit, tidak juga hendak menutupinya. Lewat puisi-puisinya, dia ingin mengenali setiap peristiwa secara lebih. Bahkan sampai hal-hal terpahit yang dia rasakan.
Biarkan aku mengabadikan tubuhmu
dengan kedua telapak tanganku
Biarkan aku mengenal kegelapanmu terlebih dahulu
(Gandari Memasuki Kegelapan)
Dan pada akhirnya, lewat perasaan terhadap peristiwa itulah puisi-puisi Gunawan Maryanto berpetualang.
Jakarta, 03 April 2009
Catatan : Untuk pemesanan, silakan hubungi atau mengirimkan pesan singkat (sms) ke (0274) 9198980 atau (021) 92306936 atau mengirimkan e-mail ke order@omahsore.web.id atau meninggalkan pesan YM di omah_sore.

