SURABAYA, KOMPAS.COM--Seniman di Surabaya berharap agar "Biennale Jatim" yang merupakan ajang pameran seni rupa berkala dua tahunan, bisa dilanjutkan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim.
"Sekarang ini belum jelas mengenai kabar ’Biennale Jatim’, siapa yang akan melanjutkan setelah Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) berubah fungsi menjadi pembina kesenian di bidang pendidikan," kata pelukis, Agus Kucing di Surabaya, Jumat.
Biennale Jatim merupakan program TBJT yang dirintis saat Pribadi Agus Santoso masih menjabat Kepala TBJT. Namun di awal 2009, TBJT berubah fungsi dari pembinaan untuk seniman secara umum ke bidang pendidikan.
"Seharusnya 2009 ini ada kegiatan Biennale Jatim, karena terakhir dilaksanakan 2007. Namun sampai sekarang saya belum mendengar kabar apakah program itu dilanjutkan atau tidak," kata kurator dalam pelaksanaan Biennale Jatim itu.
Menurut dia, saat ini banyak perupa potensial di Jatim yang memerlukan ajang berekspresi di Biennale Jatim. Karena itu, ia berharap, kalau memang Biennale Jatim tidak dilanjutkan, seharusnya diganti dengan Biennale Surabaya.
"Dengan adanya perubahan fungsi TBJT, maka banyak program kesenian berkala yang kemudian tidak jelas nasibnya, termasuk pameran akbar seni rupa Jatim yang merupakan awal dari biennale," katanya.
Sementara Farid Syamlan yang juga Sekretaris II Dewan Kesenian Surabaya (DKS), justru apatis dengan program tersebut. Menurut dia, sebetulnya sejumah program di TBJT itu tidak banyak berpengaruh bagi seniman.
"Sebetulnya ada festival atau tidak itu tidak pengaruh, karena semuanya hanya proyek. Kalau hanya festival seperti itu tidak akan pernah melahirkan seniman besar, seperti Gombloh, Budi Darma, Leo Kristi, Amang Rahman dan lainnya," katanya menegaskan.
Menurut dia, penyelenggaraan festival yang digelar pemerintah tidak membuat seniman memiliki mental pejuang yang "berdarah-darah". Padahal, karya seni yang bagus itu harus dikerjakan dengan "berkeringat" dan air mata.


