Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 02:39 WIB
Seniman Malaysia Pameran di Yogyakarta
| Senin, 23 Maret 2009 | 22:05 WIB
|
Share:

YOGYAKARTA,  KOMPAS.com — Seniman dari Malaysia Kow Leong Kiang akan menggelar pameran tunggal lukisan yang menampilkan suasana pedesaan dan potret kolektif sebuah masyarakat seni, di Tembi Contemporary Yogyakarta, 24 Maret hingga 18 April 2009.

"Lukisannya tentang suasana pedesaan di pesisir timur Malaysia terekam melalui sentuhan kuas seringan kapas," kata pengelola Tembi Contemporary, Riessa Wijaya, di Yogyakarta, Minggu.

Ia mengatakan, kepiawaiannya tentang keindahan pesisir timur Malaysia merangkul, merangkum kesenduan dan nostalgia kampung halaman, bahkan dia telah menciptakan beberapa citra pedesaan Malaysia yang paling berkesan.

"Lukisan karya Kow Leong Kiang yang berjudul ’Bapak Spekulator Asing, Berhentilah Merusak Negeri Kami’ berhasil memenangi grand prize di Philip Morris ASEAN Art Awards 1998," katanya.

Menurut dia, Kow Leong Kiang tiba di Yogyakarta sekitar Juni 2008 dalam sebuah program residensi yang diatur Valentine Willie Fine Art.

Sejak itu Kow mulai mengerjakan proyek akbar yang berupaya menangkap suasana komunal informal hidup di kancah seni ini dalam serangkaian potret tokoh-tokoh seniman kontemporer yang tinggal di Yogyakarta.

"Agus Suwage, Arahmaini, Jumaldi Alfi, Angki Purbandono, Eko Nugroho, Ugo Untoro, Handiwirman Saputra, Putu Sutawijaya, dan seniman ternama lainnya bukan hanya menjadi teman baik, namun juga subyek ikonik berkat kepiawaian kibasan kuas Kow," katanya.

Ia mengatakan, Yogyakarta, yang dipilih sebagai tempat menetap oleh seniman dari seluruh pelosok Indonesia, kini diakui secara internasional sebagai pusat budaya di kawasan Asia Tenggara.

Potret itu secara kolektif menampilkan masyarakat seni yang berani tampil beda berkat selera humor, kepandaian, kejujuran, dan dedikasi para karakter unik yang bersama-sama menjadi bagian modal kreatif kota ini.

"Pameran itu menggarisbawahi pertalian komunal yang menghubungkan rasi bintang-bintang yang terdiri atas para seniman berpengaruh tersebut, yang terlukis dalam habitat berkiprah mereka," katanya.

Sumber :
Ant