
Oleh: Senggrutu Singomenggolo
Pagi ini, Jumat, 27 Februari 2009 pukul 08.30, Prof Suminto melantunkan SMS panjang, memberitakan kepulangan pemusik gamelan kontemporer untuk menghadap Al Khaliq setelah beberapa hari berbaring di RS Panti Rapih Yogyakarta. Seorang tokoh yang membongkar dan nyempal dari tradisi gamelan Jawa. Gamelan yang bernada diatonis menjadi pentatonis yang slendro dan pelog menjadi konser bunyi lewat pementasan elektronik maupun sensasional musik sepanjang jalan kota Yogya dan dipancarkan, baik lewat radio maupun pementasan yang dapat dilihat selama lebih dari dua puluh empat jam.
Pertemuan saya secara nyata terakhir pada saat ada Kongres Kebudayaan Indonesia di Hotel Salak Bogor selain lewat sarana handphone. Di Hotel Salak lantai 5 tempat Prof Suminto menginap, kami bertiga membaca masa depan dan masa lalu dalam persepsi dan pemahaman masing-masing. Hanya saya sendiri yang mengaitkan kedua tokoh budaya, Suminto dan Sapto. Keduanya baru ngeh kalau mereka meggeluti bidang yang mirip: gamelan.
Saya memang ketemu Sapto lebih dahulu di dunia kreatif lewat Teater Padmanaba kegiatan ekstra kurikuler SMA Negeri 3 Yogyakarta tahun 1974. Sapto merencanakan teatrikal musik yang saat itu sedang merebak akibat hembusan Rock Opera Jesus Christ Superstar yang memang nyempal dari pakem dan menawarkan kepahlawanan Judas Iskariot menjadikan Jesus Christ Superstar. Harry Rusli di Bandung pun sempat mengecoh dengan Ken A Rock-nya. Kami berdua membuat pementasan teatrikal musik Opera 2302 AD dan 2449 BC serta saya tuliskan skrip “Kabut Kaki Merapi”.
Di antara kegiatan teater itu, kami pernah ikut main drama "Sumpah Gajah Mada" menjadi anak gamelan dan saya memukul gamelan tanpa menyentuh bilah untuk menghilangkan gema, bahkan saat membuat rekaman ilustrasi di kamar gudang Sapto tidur, rumah Jalan Tamankrido 23, yang dikenal dengan Laboratorium Musik saya memukul gong kecil (bende) selalu tak tepat ritme dan menjadikan inspirasi Sapto memasukkan bunyi mesin ketik manual dalam ilustrasi musik untuk opera-opera yang kami buat bersama..
Pribadi yang nyempal dan membongkar tradisi gamelan melahirkan Festival Gamelan dengan label gaul atau kontemporer yang saya amati dari berita koran. Hal ini terjadi setelah tahun 1979 saya selesaikan Sarmud Pendidikan saja dan melanjut ke IKIP Rawamangun Jakarta. Saya lepas hubungan dan hanya lewat berita dan, sesekali, pementasan Sapto di TIM Jakarta. Saya menyaksikan kebengalan dan kembelingan Sapto pada alat bunyi tradisional Jawa yang terkenal itu.
Adapun Suminto saya jumpai di kampus Karangmalang karena ketertarikan atas sastra dan kedekatan rumah kos dan seringnya cari makan siang sepulang kuliah. Jelas perjumpaan dengan Suminto lebih akademis.
Sapto juga seorang penyair. Ada beberapa puisinya yang berbicara tentang SPP (sumbangan orang tua untuk kegiatan pendidikan) yang naik. Sapto juga penari andal untuk pasukan Rama Wijaya sebagai monyet putih. Dalam kreativitas lagu, beberapa lagu Sapto dulu digunakan dalam pementasan atau lomba gitar bolong atau yang dikenal dengan kelompok Folk Song.
Ada hal yang menggelikan dengan kamar gudang tempat Sapto tidur yang buka 24 jam di jalan Taman Krido 23 Yogya dengan pintu selebar 90 cm yang boleh terbuka sepertiganya saja karena terganjal tempayan air besar yang digunakan sebagai loudspeaker. Pada suatu ketika saat berkumpul lebih dari tiga orang dan mengembuskan asap dari dupa Budhagrass ada yang terpekik dia mengeluarkan taringnya! Kami serentak lari ke pintu untuk melarikan diri. Bisa dibayangkan dengan pintu yang terbuka hanya sepertiganya dan harus menutup sebelum kami siap keluar. Kami seperti ikan sarden yang berimpitan dengan rasa takut yang bersamaan, padahal itu karena halusinasi mujarab dari asap dupa Budhagrass. Juga ketika matahari beredar di ubun-ubun, ada yang memutar film biru dengan lebar 16 mm yang dipancarkan di kertas manila putih yang tertempel di pintu, setiap orang yang hadir ke dalam ruang gelap akan tersemprot makian karena mengganggu keasyikan khalayan remaja tentang masalah yang tabu, tetapi membuat penasaran.
Sampai saat ini, saya tidak pernah lagi dapat berhubungan dengan semua “teman sekamar Sapto gudang jalan Tamankrido 23 Yogya” lagi karena, selain Sapto, ada yang juga sudah mendahului, dan ada yang hilang seperti penyair Wiji Thukul dan Suwarno Pragolapati. Jadi, istilah jumpa kangen itu tak pernah ada dan tak mungkin lagi ada, apalagi ada beberapa “penghuni” seakan insyaf tidak mau lagi bersinggungan dengan kenangan kelam di kamar gudang Sapto tidur. Terutama saya karena saya merasa malu atas usia saya saat itu ikut-ikut menikmati masa bohemian yang membekas sebagai jejak guratan merah.
Slendro dan pelog, apalagi patet manyuro, akan mengiring langkah megatruh yang nglangut. Namun, SMS-mu tentang kamar 505 Hotel Salak Bogor telah saya hapus. Seandainya saya tahu itu bagian akhir dari sebuah pementasan diri seorang Sapto, pasti akan jadi catatan yang tak kan terhapus kecuali tercuri. Sapto selamat jalan!
Cns-Bogor menjelang sore hari yang redup *