KARIMUN, KAMIS - Bupati Kabupaten Karimun, Nurdin Basirun mengatakan pihaknya akan menjamin sepenuhnya biaya pengobatan Septria (5 bulan) anak pasangan Nazar dan Siti Hajariah, yang menderita hidrosefalus.
"Orang tua bayi tidak perlu memikirkan biaya karena sepenuhnya akan kami tangani termasuk biaya pihak keluarganya yang menjaganya," katanya di Tanjung Balai Karimun, Rabu.
Nurdin mengatakan pemerintah daerah ingin Septria mendapat perawatan medis di Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB) hingga sembuh.
"Kami khawatir walau Septria sudah diizinkan pulang, di rumah keluarganya tidak bisa merawatnya," katanya. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemkab Karimun, Tjejep Yudiana mengatakan memang sudah menjadi tanggung jawab pemerintah daerah untuk membiayai sepenuhnya pengobatan keluarga pemegang surat keterangan tidak mampu (SKTM) dari kelurahan.
Berdasarkan informasi petugas medis RSOB, awalnya besar lingkaran kepala Septria yang dirawat di ruangan Melati 7 sekitar 58 sentimeter, setelah dioperasi Rabu (4/2) besar lingkarannya berkurang sekitar 2 sentimeter. Petugas medis mengizinkan Septria menjalani rawat jalan pascaoperasi.
Sementara itu, berdasarkan penuturan Siti Hajariah, kakek Septria, yaitu Rustam sebelumnya terpaksa berbohong mengatakan bahwa suaminya telah meninggal dunia. Tujuannya agar anaknya mendapat bantuan biaya pengobatan.
"Kami ini orang tak mampu, semua itu terjadi karena keluarga kami sudah panik dan saya sempat stres, kami tidak tahu lagi cara untuk membiayai pengobatan Septria, sepanjang hari dia selalu menangis," akunya.
Sebelumnya, Sabtu (24/1) Rustam sempat membawa cucunya ke DPRD Karimun untuk mencari donatur biaya pengobatan cucunya, dan berhasil menjumpai Bupati Karimun usai mengikuti rapat paripurna.
Agar cucunya mendapat bantuan biaya pengobatan, dia tega berbohong. Dia mengatakan cucunya bernama Ria Ramadhani yang ayahnya telah meninggal saat Ria masih berusia tiga bulan, sedangkan ibunya lumpuh total sejak cucunya dilahirkan .
Dia mengaku, biaya hidup Ria terpaksa ditanggungnya padahal dirinya hanyalah seorang buruh kasar dengan pendapatan sehari-hari hanya Rp30 ribu.
"Bagaimana kami membiayai pengobatannya, gaji saya hanya cukup untuk makan sehari-hari, itupun kadang-kadang masih kurang," katanya menceritakan pengalamannya mendapatkan bantuan.

